Tak akan pernah menyerah
Karya : Irma Surya
Tak ada manusia yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali apa yang telah terjadi
Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini tak ada artinya lagi
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik
Suara merdu itu akan selalu terdengar di pelosok-pelosok desa rumah kami. Setiap kami terluka, terjatuh, dan terhina. Kami para gadis desa yang tak akan pernah sama. Kami gadis desa yang penuh dengan keberanian dan akan menjadi pahlawan.
” Pahlawan desa kali...”, kata winda bergegas memburu buku-bukunya yang tebal hasil pinjaman dari perpustakaan sekolah. Biasanya dia telat mengembalikan buku-buku itu sehingga banyak denda keterlambatan yang harus dibayar. Alasannya pasti karena belum benar-benar memahami isi itu buku.
”Emang kita banyak uang ya? Kamu itu selalu buang-buang duit cuma untuk bayar denda saja..”, kataku menggerutu. Aku memberi makan anak-anak ayam dengan bu’uk.
”Alah mbak...masalahnya ini penting.. rakus untuk ilmu kan boleh...”, elaknya membela diri. Selalu begitu.
”Iya boleh, tapi harusnya tidak merugikan pihak yang lain dong. Rakus sama ilmu kan bisa diakali toh...”, kata Ila sepupuku keluar dari kandang sapi sambil membawa buku catatannya. ”aku aja ke perpus tiap hari aku catet, atau aku meminjam satu buku dulu, selesai dikembalikan. Begitu tiap hari. Akan lebih bagus, kalo kamu pinjam 10 buku dengan menyelesaikan sehari. Lha kamu 10 buku berbulan-bulan, mending aku, satu bulan 15 buku,”
”Idih..sombongnya mbak ila rek,” kata Winda lagi. Masih asyik mengamati bukunya. Dia duduk di atas dipan. Menyaksikan kami memberi makan anak ayam.
”Bukan gitu Win, ini saran!”, kata Ila lagi.
”Iya, iya..”, kata Winda akhirnya.
”Eh, kamu terusin tu kasi makan pitik-pitik ntuh..aku sek mau nerusin tugas makalah belum selesai, ya?”, kataku pada Winda yang keliatan lebih malas-malasan dari kami. Meskipun kami semua sama-sama senang belajar.
”Kelas tiga sibuk banget yach...”, kata Winda tetap aja komplain. Pada dasarnya kita sama-sama suka komplain dan protes sana-sini secara terbuka. Cukup demokratis daripada kongkalikong, apalagi otoriter.
***
Hari minggu begini, biasanya kami ke sawah dan duduk-duduk sambil rujakan mangga di Ladang peninggalan buyut kami. Kita itu biasanya sudah siap-siap meramu bumbu-bumbu rujak yang sangat pedas. Kami semua memang suka makanan yang menggugah selera, hot, dan mantap mentong.
”nyam, nyam, bentar lagi musim tembakau ya?”, tanyanya Winda, orang paling kritis dan peka lingkungan ini.
”Yo’i...”, jawab Ila.
”We...rumah kita di desa tapi kita gaul juje ye, yo’i? Hehehe..”, aku tertawa renyah. ”Win, ngupasnya tangkas dikit dong...”.
”Bantuin dong!”
”Gak dibantuin dikit, ngeluh nih ye,,,”, kata Ila.
”Yo’a”
Sekolah kita di kota, sama-sama dapat beasiswa. Kami memang beruntung dan banyak rezeki dari Allah. Kami suka sekali membaca dan belajar. Sungguh, cita-cita kami tak hanya setinggi kuda.
“Ayo, makan, makan...ssshh....ssshhhh...pedesnya...yang bikin sambelnya pasti mbak coni ya?”, kata Ila. Aku tertawa. Lumayan sesuai selera orang madura swasta. Maksudnya orang jawa yang dialeknya madura sekali. Tapi anehnya bahasa kita tidak terlalu persis juga dengan bahasa madura. Jarang kita diakui asli orang jawa, meskipun kita lahir dan bertumpah darah di tanah jawa ini. Dan sumpah, jawa tulen sebenarnya. Sayang juga tidak terlalu mengerti bahasa madura. Aneh juga.
“Yeh iyelah il..ssssh...sshhhhh...sssshhhh....jago rasa was-was..” kataku.
“Mbak con ssshhh..., mbak sssshhh mau ssssshhh kuliah sssshhhh...kan??”, tanya Winda. Kenapa selalu banyak pertanyaan?
“Hmm”
“Emang ssssshhhh...kita sssssshhhh... punya sssshhhh uang sssshhh ya mbak?”, tanya Ila.
“Punya...sssssshhh.... gak...sssssshs... punya...sssssshh... harus....sssshhh... tetep...ssssshh... raih...ssssshh...cita-cita...”, jawab Winda dengan optimis.
“siiip tuh!”, sahutku.
***
Bayang-bayang adik-adikku yang begitu semangat mebuatku bangkit kembali. Mereka adalah inspirasi. Mengingat Ila sebentar lagi akan lulus dan katanya juga akan kuliah. Artinya aku yang harus mengalah, mencari cerah. Membuat diriku teladan.
Hari ini tak ada uang sepeser pun di tempatku. Padahal aku harus mengumpulkan tugas satu jam lagi. Huffh..belum makan juga. Uang beasiswaku sudah habis. Murid les privatku lagi libur, karena sudah selesai Ujian. Jadi katanya berhenti dulu. Belum ada orderan rezeki yang masuk. Tapi tak apa aku sudah biasa berjalan dalam keadaan lapar.
“Dua puluh ribu mbak harganya”, kata penjual barang-barang elektronik kepadaku.
“ Iya gak papa buk...”, kataku. Ibu itu memberi uang dua puluh ribuan untuk membayar setrika yang aku jual. Hartaku satu-satunya. Namun, tak jadi masalah asal tugasku bisa diprint dan dikumpulkan. Ini termasuk tugas besar dan benar-benar banyak halaman yang harus di print. Itupun aku pakai hutang segala sama rentalnya.hmm...
Perutku terasa kosong. Ya, aku memang belum makan. Sudah dua hari. Bagaimana caranya aku makan hari ini? Aku meremas perutku. Aku teringat Rasulaallah ketika mengganjal perutnya dengan batu-batu. Aku meniru taktik itu. Ada sebuah batu yang berukuran sedang. Ku ganjalkan perut ini dengan batu. Ups.. batunya panas. Siang ini Jogja sangat menyengat. Bisa-bisa kulit perutku mengelupas.
Tidak ada salahnya aku memulung. Baiklah dalam waktu satu jam aku bisa mendapatkan uang untuk makan. Aku masuk dalam kampus. Oh tidak, banyak teman-teman. Aku mengerjap-ngerjap. Rasanya malu sekali. Jilbabku kan besar, tentunya kentara sekali kalau itu aku. Aku pulang dulu saja ke kos. Menyamar.
***
Aku memakai jaket hitam. Topi musim panas kenang-kenangan dari mbak ratna yang pernah ke Korea. Rok hitam. Kaus kaki hitam. Bercadar hitam.
“waa.....”, aku melihat seseorang dalam cermin.
“ini benar aku? Benar-benar seperti ninja.” Hahaha..ada ya ninja jadi pemulung?”, kataku bertanya pada diri-sendiri.” Baiklah, coni, hari ini adalah hari pertamamu menjalani profesi terkeren sedunia ini....are you ready?”
Tak ada jawaban.
“ Are you ready?”
Tak ada jawaban.
“ Ready! Lets go...!”, kataku berteriak. Aku berjingkat-jingkat keluar dari kamarku. Khawatir teman-teman satu kos melihatku. Bisa gawat kan? Setelah aman aku berlari seperti saras yang akan menyerang musuh. Eits lupa! Karungnya mana??
***
Kampusku yang coklat kemerah-merahan ini memang terlihat sederhana, tapi besar juga ya? Aku baru menyadari betapa lingkungan yang besar ini punya potensi yang banyak. Aku bisa jualan cilok malang di Jogja ini. Iya kan? Tapi belum ada modal. Yang terpenting sekarang aku harus mendapatkan uang makan dulu. Syukur-syukur kalau lebih.
Usruk....usruk...
Aku mengais-ngais tong sampah sok cuek. Padahal hampir semua mahasiswa yang ada di dekat situ melihatku. Semoga saja mereka tidak mengenalku. Aku ambili botol-botol plastik dan gelas plastik bekas minum yang berserakan di hotspotan, cafetaria, di jalan, disekitar toilet, di kampus Geofisika, kampus ekonomi, kampus ISIP, semuanya, kecuali kampusku sendiri, karena aku akan malu kalau ketahuan. Entahlah mengapa malu. Selama apa yang aku lakukan itu halal seharusnya aku tak perlu malu. Tapi...ah, entahlah.
Yeah!, sudah dua karung. Banyak juga ya. Puih...langit sudah hampir gelap, mau adzan magrib tampaknya. Aku belum bersih-bersih diri. Aku melangkah dengan nikmat hidup ini. Aku segera bergegas tempat penjualan botol dan gelas bekas. Khawatir tutup.
Ternyata benar tutup, karena sudah mulai petang. Terpaksa harus ku bawa pulang dan hari ini aku belum bisa makan, berarti harus menunggu besok untuk makan. Genap puasa tiga hari. Tapi semoga ada rezeki. Tapi tunggu! Ada yang lupa. Barang bekas ini aku taruh mana? Tidak mungkin aku taruh kos. Bisa-bisa apa kta dunia anak kos? Hmmm...
“Jilbaber....darimana ya?”, tanya fitri seperti biasa dengan pakiannya yang sensual. Baju tidurnya tidak ada yang tidak terbuka.
“Fit, bajumu kebakaran ya?”, tanyaku padanya tidak menjawab pertanyaannya.
“Emang kenapa Con?”, herannya dengan gaya lagi-lagi sensual.
“Seksi tauk! Itu aurat fit...aku jadi malu..Sendiri...hheheh”, kataku sambil tertawa.
“Ah kamu tu con..kita kan sama-sama punya..”
“Iya tapi kan itu aurat juga bagi sesama wanita, karena daerah negatif...hehehe...kamu gak mau kan aku tergoda sama kamu??” tanyaku sedikit bercanda.
“Ye, awas aja loe ya..”, katanya mencawil pinggangku.
“eh apaan tuh, bawa barang banyak nih?”, tanyanya melirik du karus yang ku ikat dengan rapi.
“ini uang, you know?, tanyaku padanya.
“no..”
“janji akan sembunyikan?”, tanyaku.
“Deal!”
“sssssttt,,aku jadi pemulung.”, kataku pelan.
“Hah???”, tanyanya kaget begitu tahu kondisiku. Akhirnya setelah itu aku diajak makan bareng oleh fitri. Alhamdulillah.
***
Begitulah setiap hari yang ku lakukan. Menyamar. Dan mengendap-ngendap. Daerah kerjaku mulai meluas. Di terminal, di pasar, di mall, dan di kampus lain. Aku begitu senang melakukannya. Ini yang terpenting aku tahu bagaimana aku mendapatkan uang. Hingga pada suatu hari ada orang yang menyapaku.
“ Coni?”, ada seseorang yang telah berdiri di depan tong sampah yang ku korek-korek. Hari ini aku tidak seperti ninja, karena pakaian itu tiba-tiba hilang, sehingga aku memutuskan untuk memulung di tempat yang jauh dari kampus. Aku sekarang di sekitar daerah Malioboro. Jauh juga kan?
Aku mengangkat kepalaku. Aku sangat mengenal orang yang sedang menyapaku dan menatapku heran itu. Dia Rudi. Teman sekelasku dulu ketika SMA. Dia ketua osis. Dan terkenal paling kaya dan digandrungi teman-teman. Orang bonafit dengan kepimimpinan yang sangat memukau. Sedangkan aku adalah ketua MPK yang sering berinteraksi dengannya.
DEG!
“Coni kan?”, tanyanya sekali lagi.
“Kamu ngapain Con disini? Kamu diterima di UGM kan?”, tanyanya lagi.
Aku masih diam. Rasa malu masih menyelimutiku.
“Iya emangngya kenapa?”, tanyaku agak sewot.
“Seneng banget Con, kita ketemu lagi setelah hampir dua tahun kita lulus. Aku di UNY, aku lagi jalan-jalan bareng temen-temenku.”, katanya tanpa aku tanya.
“Siapa yang nanya?”, kataku lagi.
“Kamu selalu aja gitu Con sama aku. Jutek!huh!”, katanya.
“Emangnya kenapa? Biasanya kamu kan ngece aku! Dulu kamu bilang aku penjual si penjual es lilin, bilang bisniswomen nyasar! Yang bener aja! Sekarang kamu liat aku ngapain? Silahkan kamu bilang aku apa aja, terserah kamu!”, kataku cuek, kemudian aku pergi meninggalkannya.
“eh, con,con. Tunggu dulu dong...aku boleh tahu nomer kamu gak?”, tannyanya lagi.
“Gak ada! Aku gak punya Hp. Puas loe!”, kataku. Lalu melanjutkan perjalanan.
Aku benar-benar kecewa pada Rudi dan selalu saja dia itu mengecewakan aku. Ketika kita berpartner pun. Dia selalu seenaknya kalau bicara tentang aku. Banyak sekali yang dia hina dari aku. Mulai dari namaku “Coni” merk sandal jepit kata dia. Mulai dari keluargaku, adik-adikku adalah pitik-pitikku katanya. Ada lagi kalau aku katanya tukang laundry nyasar, tukang es lilin beling, dan orang miskin sok mau kuliah. Aku heran mengapa dia bisa menghinaku hingga seperti itu. Membuat aku jadi bahan tertawaan teman-teman dan guru.
“Coni itu bu, gak mungkin dapat pacar! Tampangnya aja galak luar dalem. Siapa yang mau..”, kata Rudi pada Bu Tyas ketika bertanya apakah Ketua Osis dan MPK itu tidak ada yang melanggar peraturan. Karena di Sekolahku yang notabene islami adalah persyaratannya salah satu yaitu tidak memiliki ikatan berpacaran dan memiliki akhlak serta akidah yang memadai.
“Lho bu, pacaran kan emang tidak boleh. Kenapa ibu bertanya seperti itu?”, tanyaku.
“Hanya evaluasi saja con,” jawab Bu Tyas lembut.
“Pemimpin yang baik itu adalah pemimpin yang telah melepaskan diri dari urusan-urusan pribadi yang menghambat kinerja kepemimpinannya,” kata Rudi mengguruiku.
“Kamu ngomong kayak gitu, seolah-olah aku pernah pacaran aja”, kataku sewot keluar dari kantor Bu Tyas.
Dia diam, dan aku meninggalkannya sendiri di depan kantor Kepala Sekolah.
Kalau ingat Rudi, ampun aku selalu kesal tujuh lautan dijadikan satu. Selalu saja meremehkan aku. Begitu lelahnya diriku menghadapi rival sejak SMP itu.
***
Di FB.
Status up date. Rudi menyapa.
“Temen2 tau gak, kemaren aku ketemu Coni, Ketua MPK kita dulu. Ternyata dia begitu hebat, teman-teman. Dia tidak malu mencari rezeki dengan memulung”
Arggh....
Rasanya aku ingin berteriak. Kenapa dia mengumumkan di FB? Ini tempat paling umum dan lebih banyak orang yang baca. Aku menghela nafas panjang.
“Rudi, gak ada kerjaan banget ngumumin kayak gitu”, gerutuku.
Jadinya banyak sekali yang coment, teman-teman sekelas di kampus juga. Karena teman-temanku juga banyak yang aku confirm di FB. Dalam sekejap hidupku berubah. Aku tidak mau lagi jadi pemulung.
“Con, ngelamun aja!”, sapa Dewi dengan wajah kumalnya. Dia penyanyi jalanan. Biasanya menyanyi dengan Tode, si gitaris.
“Koranmu masih banyak ntuh...baru seminggu udah loyo kerjanya”, kata Tode menimpali.
“Aku lagi sebel....”, kataku pada mereka.
“ Kenapa con?”
“Aku ketemu lagi sama orang yang suka ngece aku. Tadi aku ketemu orang itu lagi di toilet. Aku malu sekali.”
“Gitu aja malu con, dia bukan pacar kamu kan sehingga membuat kamu malu?”, tanya Dewi iseng.
“Ih dewi, sejak kapan aku bilang punya pacar? Aku kan gak gitu wi..”, elakku.
“Iya, ya...eh, udah dulu ya, kita mau operasi nih, dah ada bis yang mau berangkat, yuk...”, Dewi melambaikan tangannya dengan senyum bahagianya itu. Dia selalu tersenyum.
Apa berfikir, apa bedanya aku dan mereka? Anak jalanan yang begitu miskin. Dan seperti tak pernah ada harapan untuk meraih mimpinya. Aku masih teringat percakapan aku dan Dewi ketika baru berkenalan. Dia mengatakan padaku, dia harus melakukan itu semua demi ibunya. Ibunya saat ini lumpuh total dan tidak mampu untuk berobat. Baru satu kali kemarin aku mengunjungi rumahnya. Menyedihkan. Ibu Dewi itu sangat kurus dan kekurangan gizi. Dia hany bia menatapku dan dewi. Dia tidak bisa melakukan apa-apa. Makan dan minum saja sudah susah masuk.
Aku jadi teringat kampung halaman. Ingat keluarga. Adik. Pitik. Kandang sapi. Dan ladang. Aku sudah lama tinggal bersama nenek kami. Nenek kami yang membiayai hidup dan sekolah kami. Orang tua kami meninggal sejak kami SD. Dan Nenek seorang diri menjadi single parent untuk kami. Hingga saat ini.
Wajah tua itu mengingatkan aku pada sebuah kegigihan dan kesabaran yang panjang. Nenekku tak pernah mengeluhkan apapun yang menjadi keinginan kita. Seperti anaknya sendiri. Kami selalu di biarkan memilih hidup kami sendiri. Nenk yang sangat bijaksana. Pagi-pagi buta, nenek biasanya pergi ke pasar untuk menyiapkan sarapan kami bertiga. Satelah itu nenek ke ladang, mencari kayu bakar, dan menanam sayur mayur. Kemudian agak siang, nenek membuat mie dengan resepnya sendiri. Kami punya warung kecil yang selalu buka tiap malam. Warung mie sehat yang duper merah. Kadang laris. Kadang juga tidak. Begitulah rezeki. Proses panjang itu nenek lakukan sendirian. Biasannya kami bertiga masih di sekolah. Dan sekolah kami di desa yang cukup jauh. Kami harus naik angkot untuk kesekolah. Nenek tak pernah malu melakukan apapun yang dianggapnya benar.
Aku bangkit dan beranjak dari dudukku. Apapun yang bisa ku lakukan akan ku lakukan. Go Fighter!
“Koran, koran bang, koran...”, teriakku penuh semangat. Aku tak akan menyerah.
***
Perbedaan orang yang berilmu dengan yang tida, terletak pada caranya dia berfikir untuk mempertahankan hidupnya. Kesibukanku semakin banyak. Kuliah, Tugas, organisasi, memulung, menjual koran, iseng-iseng sesekali ikut nimbrung teman-teman mengamen, menjadi pelayan di Toko kue dengan sistem part time. Semakin exist.
“ Ini kuenya dari bahan tepung pilihan bu, kami menggunakan pewarna alami dari pandan. Cheesenya ini kami pilihkan yang rendah kolesterol. Dan ada campuran isi buah naga. Benar-benar kue kering yang menyehatkan..”, aku memulai promosi pada pelanggan.
Bosku semakin menyukaiku. Walaupun terkadang protes sana-sini karena kerudungku yang besar bikin ribet kerjaa. Karena kerudungku perlu dikondisikan. Terlalu lebar dan lebar.
Bu ratih memasuki Toko dengan wajah serius.
“ Coni, ibu ingin bicara denganmu”
“Iya bu.”, kataku.
“Para pelanggan kita itu kamu tau kan kalau mereka dari kalangan menengah ke atas?”, tanyanya padaku.
“Iya bu saya paham..”
“Bagaimana ya? Beberapa pelanggan kita pernah melihat Coni sedang mengkorek-korek sampah beberapa hari yang lalu. Apakah benar demikian coni? Ibu minta maaf sebelumnya.”,katanya sedikit khawatir.
“ Iya bu...”
“Beberapa hari ini pelanggan-pelanggan yang melihat coni sedang memulung itu tidak mau lagi datang kesini..”
“Iya bu...”
“Pihak Instansi tidak bisa berbuat apa-apa, dan marketing itu dari mulut ke mulut juga coni...”
“Iya bu...”
“ Dan ini sudah menyebar di kalangan pelanggan toko ini yang sudah lama memberi pelanyanan yang terbaik. Maklum, bukankah mereka memang perfeksionis untuk masalh ini coni?”
“iya bu...langsung aja, apa yang ibu putuskan?”
“ ya, dengan berat hati, kami mengistirahatkan dirimu dulu. Kita akan buat tenang dulu kondisinya,”
Aku dikeluarkan dari tempat kerja resmiku. Aku emandang wajahku dibalik cermin di tenpat wudhu masjid disamping toko itu. Aku memandang wajah itu. Begitu terlihat tua. Keriput. Kusut. Banyak pikiran. Ya, aku memang banyak pikiran. Mungkin karena aku tak punya waktu untuk perawatan. Tapi aku kan mahasiswa. Seharusnya profesional.
Aku berniat merawat tubuhku dengan ramuan jawa. Seperti yang diasjarkan nenekku. Aku membeli bengkoang untuk masker dengan campuran madu asli. Membeli kunyit, gula merah, temulawak dan jinten hitam. Itu sih seperti resep obat liver. Ya, tapi lumayan untuk nafsu makan. Biar aku tidak kurus-kurus amat seperti ini.
***
Masa daftar ulang. Uangku kurang dua ratus ribu. Benar-benar aku bingung harus cari uang kemana lagi. Tunggakan yang kemarin masih ada. Hari ini benar-banar aku sibuk. Aku sudah bosan berhutang untuk masalah urusan ini. Sedangkan perutku sering berteriak lapar-lapar. Gara-gara minum jamu itu, biasanya aku makan hanya dua kali jadi empat kali sehari. Emang orang miskin itu susah ngikut orang kaya. Aku kurang strategi kemarin, terlalu memikirkan apa yang di katakan orang lain. Kurus untuk sementara kan tidak masalah.
“Kalau kamu emang benar-benar butuh, pake uang tabunganku saj con,” ujar Dewi.
“ Tidak usah dew, aku hanya bercerita tentang masalahku saja. Kamu lebih membutuhkan itu semua kan?”
“Tapi gak papa con, ibuku sudah tidak punya harapan lagi...ibuku...” Dewi terdiam. Lama sekali. Kemudian di terisak. Aku menyesal sekali mengapa aku bercerita pada orang yang lebih menderita daripada aku.
“Sudah wi, yang tabah ya... semuanya pasti bisa kamu lewati. Semua ini terjadi karena takdir dari Allah. Allah berikan cobaan ini sesuai dengan kesanggupan hamba-hambanya. Artinya, kamu mampu Dewi dengan cobaan seberat ini. Allah percayakan itu smeua padamu. Allah pasti bersam orang-orang yang sabar...”, kataku memeluknya erat. Dia menangis sejadi-jadinya.
“Kak dewi, kak dewi...”, teriakan pohan memecah tangisnya.
Aku dan dewi menoleh dengan kaget.
“Ibu...”, sebutnya. Pohan kecil itu berlari dengan isyarat kami harus mengikutinya.
Kami berlarian menyusuri pasar-pasar, dan ruas-ruas terminal. Kami tidak lagi peduli sekeliling. Karena .... karena ini lebih dari kehidupan...
Setelah kami sampai di gubuk itu. Dewi mencari-cari sosok pelita yang selama ini membuatnya terang itu. Yang selama ini menjadi cahayanya ketika gelap. Ibunya yang membuatnya bangkit kembali dalam keadaan sangat melarat ini. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi obor kehidupan itu. Tangisnya pecah, memenuhi ruangan dengan pelukan yang tak ingin dilepasnya sama sekali. Mengapa semuanya harus pergi dan teras tidak adil bagi kami? Bukan pada Tuhan? Tapi pada balas kasihan orang lain. Apakah terlalu banyaknya orang miskin hingga menjamahnya saja terkadang terlalu tak terjangkau. Terlalu banyaknya dari kami yang butuh pertolongan. Kemana semuanya pergi? Meninggalkan rakyat sekecil ini merakit hidupnya sendiri. Mungkin karena terlalu banyaknya kami, terlalu bodoh kami mensiasati hidup. Tapi tenanglah, tak semua dari kami butuh pertolongan. Kami bisa bangkit snediri.
***
“Mbak, mungkin terpaksa cuti dulu dek...karena uang mbak untuk teman mbak yang ibunya meninggal dan butuh uang untuk biaya pemakaman. Uang tabungannya ternyata hanya sisa seratus ribu. Kami juga butuh untuk membayar orang-oarng sekitar. Karena tidak ada yang mau membantu kita tanpa di bayar...”, kataku pada Winda, waktu ku telfon lewat wartel.
“Trus mbak..sebentar lagi mbak Ila juga akan kuliah. Sudah diterima di UNY. Jurusan Sastra Inggris...nanti kita akan gimana?”, tanyanya dengan polos. Winda sebentar lagi juga kelas dua SMA. Mungkin akan segera menyusul kami.
“ Para pejuang tidak akan meyerah Win, meskipun badai itu seperti topan. Kita akan berusaha menjadi Karang yang besar. Tapi memang butuh keasabarn win...tidak semuadah itu memperjuangkan segalanya...ada terjal dan aral yang melintang, bersatu padu untuk menutup kebahagiaan kita. Tapi win, aral itu pasti bisa kita patahkan! Semangat!” ktaku padanya.
“mbak Coni bisa saja bilang semangat, padahal mbak harus berhenti kuliah dulu, cuti dulu. Mbak pasti sedih ya karena tidak bisa melanjutkan kuliah dengan sempurna dan akan berhenti belajar.”
“ Belajar tidak harus diruangan, digedung dek..mbak bisa belajar dimana saja. Ilmu itu digunakan untuk bertahan hidup bukan? Mbak akn berjualan, mbak mau berbisnis, nanti kan ada Ila, jadi di Jogja kita akan bersama-sama menjual mie sehat resep nenek kita. Oke sayang, idah dulu ya...”
***
Mungkin aku memang sedih, harapanku untuk lulus cepat sirna sudah. Tapi tak mengapa terkadang semua tidak berjalan sesuai keinginan manusia. Allah lah yang menentukan semuanya. Mungkin aku juga sedih, karena bebanku akan semakin berat, karena aku akan berjuang untuk menghidupi dan Ila adikku disini. Namun aku taidak akan pernah menyerah menghadapi semuanya. Aku akan lulus S1 walaupun Ila juga butuh itu.
Aku menatap matahari itu dengan senyum sapa. Semua yang terjadi adalah sebagai menambahkan ilmu, iamn, dan wawasan. Pelajaran hisup terbesar adalah bagaimana belajar bertahan hidup itu sendiri. Karena aku orang yang berilmu, maka aku akan menggunakan otak itu. Itulah bedanya orang yang berfikir dan tidak. Aku sedang merancang sebuah cita-cita, aku ingin bermanfaat untuk orang lain. Mari berbisnis. Jangan pernah menyerah.
Jangan menyerah...jangan menyerah
Oh...
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah...
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik...
Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasanya...
Bagi hambanya yang sabar
Dan tak kenal putus asa...
“ jangan menyerah...jangan menyerah...”, terdengar suara Dewi diantara keramaian. Suara itu merdu. Dan indah. Mereka sedang menyanyikan lagu d’Masiv dengan hikmat. Mungkin karena beban itu yang membuat mereka begitu tampak indah. Kini para pengamen itu tak lagi memeprsembahkan lagu-lagu mereka dari bis ke bis. Namun, dari panggung ke panggung. Dewi saat ini menjadi penyanyi inspiratif untuk kita semua. Jangan menyerah!
***