Selasa, 12 Juli 2011

Nyata di Era Modern

TEROR
Karya :Irma surya 

“ Assalamualaykum?”, sapaku ketika untuk kesekian kalinya nomor asing ini iseng-iseng miscall. Lama-lama sebel juga, jika tak digubris terus mengganggu, tapi kalau diangkat pasti ditutup tanpa kata. Ya, sabar sajalah.
Hari berikutnya ada sms masuk berupa puisi. 
Sangkakala…
Mencintaimu,
Seperti terdengar tiupannya..
Lebur...
Kebingungan...
Pencarian yang tak ada ajal 
Jatuh cinta padamu
Terdengar pekikan terompet itu
Sakit...
Hancurkan gendangku
Mendecak kagum, padamu
Wahai perempuanku...
Bukan milikku
Terpisah karena teriakan  sangkakala 
Walaupun panas, matahari dipucuk mataku
      Aku tetap tersenyum...
Dalam kehinaan...
      Karena cinta yang terlebur sangkakala... 
Sangkakala, tak mampu hentikan aliran cintaku
Sampai dalam darah terkecil... 
      Aku menghela nafas panjang. Benarkah aku memiliki kisah seperti yang dituliskan oleh puisi itu?terpisah?sulit kupahami.
     Aku menebak-nebak siapakah yang mengirim sms ini. Masa silam itu berdesakan dalam memori kisah SMP. Ya, dulu aku pernah ngefans berat pada tokoh pemain basket di sekolah dulu. Cakep, tinggi, putih, kaya, ngetop, banyak cewek mengantri pengin jadi pacarnya. Tapi itu Cuma sekedar idola saja!seperti aku mengidolakan pasha ungu. Bukan perasaan jatuh cinta.
      SMP dulu, aku adalah sosok ABG yang lugu dan sedikit teman. Sedangkan sekolahku berjenis sekolah borjuis. Modern banget, sekolah internasional. Kalau tak ada beasiswa, mungkin aku tak akan bisa sekolah disana. Karena aku bukan anak orang kaya.
      Waktu kelas 3, kebetulan aku satu kelas dengannya. Wajah dia itu putih bersih, melihat sebentar saja aku malu. Karena aku saja yang perempuan tidak sampai secantik itu kulitnya. Terkadang aku terheran-heran, sebab Tuhan hebat sekali menciptakan makhluk yang fisiknya sesempurna itu. Membuat yang memandang saja malu. Karena minder, eits,,,bukan karena naksir. Dan asal kamu tahu, aku tak pernah dengan sengaja melebarkan senyumku dihadapannya. Untuk apa? Kalau temen-temen pada asyik nonton basket, cuma aku satu-satunya orang yang gak pernah nongol batang hidungnya dideretan penonton itu sampai permainannya selesai. Kalau temen-temen lagi petantang-petenteng pamer sana, pamer sini, make up, produk luar negri, atau apalah.Cuma aku satu-satunya yang memilih mengamati saja aksi-aksi teman-teman itu. Karena semua itu bagiku tidak terlalu penting. Terima kasih banyak udah ngajak aku.
      ”ning, kamu gak mau pacaran?”, tanya teman sebangkuku.
      ”enggak”, jawabku sambil mesem, ”aku mau niat belajar, aku kasihan orang tua dan aku takut Allahku cemburu jika rasa cintaku telah ku bagi dengan yang lain. Tak ada yang bisa menandingi Allah. Maaf ya aku jawabnya apa adanya”,
      ”emangnya kenapa sih kalau pacaran?”
      ”gak papa”, jawabku.
      ”emang dosa  ya ning?”
      ”mungkin iyA, Mungkin juga enggak”
      ”kok gitu sih jawabnya?”
      ”trus gimana donk, aku yakin Allah tidak akan memberi peraturan yang tidak jelas hukumnya, karean tidak jelas, lebih baik ditinggalkan”.
      ”oooo”,kata sari tidak komen lagi
      Akhir-akhir ini pemain basket itu tampak selalu mendekatiku. Atau aku saja yang gedhe rasa? Tapi ternyata benar, pemain basket itu sering bertanya soal pelajaran yang sebenernya sudah terkadang sudah diketahuinya. Untuk apa, aku juga heran. Dia juga suka senyum tidak jelas gitu deh. Yang lebih herannya lagi, dia santai saja waktu sahabatnya mengumumkan dirinya yang naksir aku.
      ”sudahlah fer, kamu tu....ya...cerita nining....terus. kan aku bosen bos dengerinnya! Jangan-jangan kamu suka ya?”, kata Doni pada feraz, pemain basket itu.
      ”ssssttt!jangan keras-keras, nining denger tuh!”, kata feraz pada Doni, padahal aku pasti denger, ngomongnya kan keras.
      ”hei!PENGUMUMAN! Feraz suka sama nining!”, teriaknya lagi didepan kelas. Seluruh kelas spontan memandangku, juga memandang pada dua anak basket itu.
      Huffffh...feraz hnaya diam saja sambil menyunggingkan bibirnya kearahku. Maksudnya lho??sumpah heran.
      Sejak saat itu aku serba canggung sama dia. Rasanya aku ibarat semut yang disuguhkan gula raksasa tanpa harus aku harus susah-susah mencari. Tapi karena aku ragu dengan kehalalan bahan gula itu, lebih baik aku memilih memandangi saja. Semakin hari ia semakin semangat belajar dan tampak sangatjenius!
      Suatu hari, sahabatku, Sari bercerita padaku bahwa dia sangat menyukai feraz sejak kelas satu. Dan sari meminta pertolonganku untuk jadi comblangnya. Sementara aku diam saja. Karena aku tidak terbiasa jadi comblang untuk pacaran. Bertolak-belakang dengan prinsipku. Lagipula aku takut berhadapan dengan laki-laki. Apalagi kalau feraz benar adamya naksir aku. Aku tidak ingin melukai orang dengan sengaja. Namun aku juga kasihan sari. Sudah lama memendam semuanya.
”tapi sar, sepertinya aku ndak bisa melakukannya,,”, kataku hati-hati.
”tolonglah ning, aku meminta tolong pada siapa lagi?kamu kan temanku..”
”aku ndak bisa sar, aku ndak bisa memulainya dari mana?”
”aku yakin kamu bisa!”, katanya, ”lagipula aku hanya pingin dia tahu aja, sudah cukup”
”tapi kamu gak akan pacaran kan?”, tanyaku. Dan sari mengangguk.
      Akhirnya aku tidak bisa menolak.
      Kemudian aku menyusun rencana untuk misi sari. Aku menggali data feraz sebanyak-banyaknya selama lima bulan melalui telefon, tentu tanpa nama asli. Karena ini tidak mudah,karena banyak sekali ketidaksesuaian kriteria  feraz untuk cewk idealnya. Kata feraz ciri-ciri cewek itu yaitu: feminim, natural,imut, dan sederhana”. Siapa? Aku juga tak tahu siapa yang dimaksud.
      Setelah selang beberapa bulan, aku meminta sari untuk berusaha sendiri. Aku sudah tidak sanggup terus mencari data yang tidak terlalu bermanfaat bagiku. Karena terlihat sekali feraz menikmati aksi telefonku. Aku khawatir dia menyangka aku ada rasa. Padahal tidak seperti itu. Aku meminta sari menjelaskan langsung pada feraz.
      ”sar, mungkin saatnya semua ini terbongkar. Kasihan lho si feraz, keliatannya terlena dengan perhatian berkat telefon itu. Dan sepertinya dia tau kalau itu aku meskipun aku tidak pakai nama asli,”
      ”iya, aku pikir kayak gitu, dan keliatannya kok dia malah deket sama kamu, deket-deket gitu..mungkin nanti aku berusaha sendiri kali ya?”
      ”lho iya, harusnya gitu...biar ndak salah paham dianya, tapi masa sih dia deket-deket aku?”
      ”iya, liat aja tuh, kayaknya dia mau kesini. Kita liat siapa yang dia sapa...”, kata sari sedikit sewot.
      Tampak feraz mendekati bangku kami dengan membawa buku-buku Pe-eR.
      ”ning, yang nomer delapan, kamu tau caranya gimana?”, tanyanya dengan senyum simpul.
      Aku tercenung melihat senyumnya. Tak berkedip. Apa karena dia ganteng seperti nabi Yusuf ya?tentu saja tidak,aku tercenung karena dia selalu tanya-tanya tugas yang sebenarnya dia kuasai.
      ”ning....”, panggilnya bergetar tapi lembut...sekali. Ada apa dengan suaranya? ih...aku sebel dengan orang ini!
      ”iya,” kataku pelan.
      ” kasi tau aku caranya gimana?,” tanyanya dengan sedikit merengek. Kenapa tidak tanya yang lain saja?yang lebih pinter dari aku juga masih banyak.
      Aku melirik sari. Dia diam. Tertunduk.Cemburu.
      ” hmmm...sorry,aku juga kurang paham dengan soal yang itu,”jawabku sedikit tidak enak. Lalu aku pindah tempat duduk untuk menghindar. Wajahku seperti membengkak. Entah, karena malu atau karena marah?susah ditafsirkan.
      Akhirnya aku dan sari memutuskan untuk mengirim surat yang berisi pemberitahuan tentang aksi telefon itu. Dalam surat itu kami menjelaskan yang sebenarnya, bahwa aku hanya sebagai orang ketiga untuk sahabatku, sari. Dan aku hanya pihak yang membantu sari saja.
      Pasca penyerahan surat itu, keesokan harinya Feraz tidak masuk sekolah. Baru kali itulah aku merasa sangat bersalah. Aku bertanya pada Doni kemana temannya itu.
      ”sakit ning, nih surat izinnya”, katanya menyerahkan padaku.
      ”ya udah suratnya kamu yang kasi aja ke bu diyah”, kataku dengan masygul.
      Aku tercenung. Sakit?hanya karena surat itu? Padahal kemarin dia baik-baik saja, bahkan sangat ceria.
      Sudah seminggu feraz tidak masuk sekolah. Aku semakin cemas. Aku takut semua itu gara-gara aku. Mungkin dia merasa dibohongi dengan pendekatan yang salah dari aku. Aku sama sekali tidak bermaksud begitu. Akhirnya kuputuskan untuk menelfonnya kembali. Kasihan sekali dia.
      ”Assalamualaykum, feraz. Gimana kabarnya? Katanya kamu sakit ya?”
      ”ya...”, jawab suara di seberang sana.
      ”sudah minum obat?”
      ”hmm..”
      ”Feraz, kamu baik-baik saja kan?”
      ”hmm...”
      ”oya Fer, kita besok mulai ada jadwal tambahan dari sekkolah untuk persiapan UNAS. Kamu masuk kan?”
      Sepi. Hening.
      Tuttuttttttttttt
      ”halo?halo feraz?”
      Keesokan harinya aku menunggu Feraz didepan gerbang sekolah. Pukul tujuh kurang sepuluh detik aku mulai gelisah. Apa dia tidak masuk lagi? Aku melihat warga sekolah sudah bersiap-siap melaksakan upacara setiap hari senin. Aku menghela nafas panjang. Lalu, behentilah sebuah mobil Aston Martin merah tepat didepanku. Pintu mobil itu terbuka. Terlihat sosok atletis keluar dari sana. Feraz. Sesaat dia melihatku. Kemudian dia berlalu dengan wajah kelu.
      Saat ini sudah terhitung delapan tahun atas kisah itu. Aku sudah kuliah. Semester delapan.aku masih menyimpan kenangan itu tanpa aku berusaha mengorek hatiku yang terdalam tentang perasaanku terhadapnya. Mungkin aku hanya kagumsaja, buktinya aku tidak terluka jika dia telah melupakan aku. Tapi mungkin juga ada rasa, buktinya aku masih mengenangnya, membiarkan kisah itu menggantung di awan selamanya.
      Selulus  SMP, aku sering mendapat teror. Dari teman Feraz. Perempuan. Dapat sms makian hampir tiap hari. Sehingga lagi-lagi aku terjebaak dalama linkaran hari-hari mereka, padahal aku tidak mengerti apa-apa.
      Saat ini, lagi?aku harus selesaikan semuanya.
      ”Assalam, ni siapa?”
      ”jn***k”, terdengar suara cemooh dari si penelepon itu. Astagfirullah. Saat ini aku buka Nining yang lugu lagi, aku sekarang Nining jilbaber yang mulai mematangkan emosi.
      Malam yang sunyi, akhir-akhirini aku terbangun tengah malam. Sayup-sayup terdengar kepakan dan suara burung gagak, suara ketikan komputer di kamar tanpa terlihat siapa yang mengetik, suara tawa yang menggelegar, kemudian suara orang sedang menggali tanah. Tiap malam. Satu dua kali tidak ada efek. Namun lama-kelamaan membuat heboh orang sekampung. Kosku di datangi lintah dalam jumlah banyak. Ada apa? karena kejadian ini terjadi terus-menerus. Aku berniatmerukhyah diri.
      Ba’da maghrib, aku membaca surat Al-baqarah. Belum selesai membacanya, tubuhku tiba-tiba terasa berat sepeerti digandoli sesuatu yang sangat besar. Kedua kakiku seperti ada sesuatu yang menjalar-jalar, berat. Punggungku seperti ada beban berat yang ku pikul. Aku mulai sesak dan tersengal-sengal dalam membacanya. Tapi aku harus melawan . Ternyata jin. Semakin ku nyaringkan suaraku membaca Al-Baqarah. Badanku semakin panas. Datanglah seorang dari temanku.
      ”tolong...”, kataku lirih, tanganku berpegangan pada temanku. Lalu, Broak...
      ”agh............................................!”, ku dapati diriku tengah berteriak-teriak. Menjerit kesakitan.” Panas....!Argh!Nining harus mati! Harus mateee!mateee!harus mateee!....”
      ”istighfar!,” kata temanku tepat pada gendang telinga.
      ”Astaghfirullahal adzim!!!!!!astaghfirullah...ha...nining harus mati!”
      Teman-teman satu kos itu mulai berdatangan ke tempatku berada. Mereka membaca Al-Quran, berdsikir, dan menyebut tauhid Allah.
      ”DIAM....!Diam...!semuanya!Aku mau ngomong! Heh, bacaanmu itu salah!salah!guoblok!bacaanmu itu tajwidnya ngawur!hahahah...aku lho pinter!aku lho kuat!Gak ada yang sekuat aku!Gak ada yang bisa ngalahin aku! Gak akan mempan bacaan apapun!”
      ”keluar!”, kata temanku.
      ”gak!”,
      ”keluar gak?!”,
      ”eng-gak!”
      ”keluar ya,,,?”, suara temanku melembut.
      ”iya...tapi nining mati dulu.Hahaha...,”aku terbahak-bahak dengan menggelegar.
”kenapa sih ning...hah?kenapa kamu gak suka sama aku?aku lho cakep!aku lho banyak yang suka!aku lho kaya!yang kaya bapakku!!hahahaha...kurang apa dari aku, hah?nining, nining,...nining,” kemudian menangis tersedu-sedu. ”Nining aku cinta sama kamu,ning!kenapa sih kamu gak ngerti-ngerti!gak ngerti-ngerti!hah?!hah?!argh....”
      Kemudian dalam kebingungan itu, teman-temanku memanggil ustadz. Selang beberapa waktu, ragaku dibiarkan meronta sendirian. Lama sekali. Tampaknya semuanya sudah menyerah. Kemudian ustadz itu datang. Dia berbicara pada jin itu. Menyuruhnya keluar sambil membaca do’a rukhyah.
      ”keluar!mau keluar gak?dipukul mau??
      ”gak mau...”
      ”kamu ngapain ganggu anak ini?ini namanya dzalim!menjajah!”
      ”karena aku suka...”
      ”sini saya kasih tahu, haram hukumnya menikah dengan makhluk yang berlain jenis”
      ”iya, iya, aku sudah tahu!”
      ”buka matanya!buka matanya dulu!”
      ”gak mau!”
      ”trus, kamu mau apa?kamu dilaknat Allah, tempatmu di neraka jahannam!kamu ahli neraka!”
      ”aku sudah tahu, karena aku gak mungkin masuk surga itulah, aku ganggu anak ini!”
      ”keluar gak!mau kamu aku paksa!?ayomasuk islam dulu”
      ”aku sudah islam tauk!dasar ustadz bodoh!”
      ”kamu ngaji?”
      ”ngaji!”
      ”ngaji apa?”
      ”surat Al Baqarah..hhahahaha”
      ”nah, dia tau al baqarah dari anak ini.ayo sekarang keluar!kasihan dia”
      ”iya, aku itu pengen keluar, tapi lewat mana?aku gak tau!”
      ”kamu disuruh ya?”
      ”heh”
      ”kamu dipaksa masuk ke tubuh anak ini ya?”
      ”iya...”
      ”kamu siapa namanya?”
      ”doel hadi”
      ”yang ngirim?”
      ”Feraz!”
      ”keluar dari mulut sekarang juga! Allahuakbar!”
      Uhuk,uhuk, uwek....
      Tengah malam, jam tiga pagi, seperti biasa aku sholat malam. Dalam kekhusyukkan berkhalwat dengan Allah. Sayup-sayup terdengar kepakan dan suara burung gagak datang. Koak!Koak!Koak!
      ”ya Allah, kuatkan aku menghadapi teror orang dzalim. Sesungguhnya tidak ada marabahaya datang atas izinMu. Maka tolonglah aku, isikan jiwaku yang kosong ini dengan berdzikirmu. Sehatkan ragaku yang rapuh ini untuk menjadi manusia kuat untuk kemenangannya.”
      Dengan tubuh lunglai dan kurus aku  tertatih meraih mushaf kecil yang mampu membukakan cakrawala keadilan dari Allah yang Maha Esa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar