Senin, 12 Januari 2015

Bicara Menikah itu menjijikkan???



Apakah benar Menikah adalah urusan yang tidak terlalu penting daripada urusan yang lain??? hal ini selalu berputar-putar di otak saya. Saya melakukan pengamatan pada orang-orang disekitar saya hidup. Ternyata, sekitar 65% orang-orang ini beranggapan bahwa menikah adalah hal yang tidak terlalu penting daripada tentang palestina, politik, dll. Tapi, entah kenapa saya kurang setuju dengan pendapat tersebut. Dan Orang-orang yang saya amati adalah 99 % orang yang kental dengan keagamaan.
Kenapa mereka sangat tabu membicarakan tentang pernikahan di usia remaja-dewasa? bukankah itu sudah menjadi fitrahnya? dimana letak kebencian mereka terhadap orang yang membicarakan tentang ilmu pernikahan? Apakah pandangan mereka tentang menikah hanya pada pemuasan nafsu atau penyaluran fitrah? dan benar, ternyata mereka benar memikirkan bahwa menikah adalah urusan sederhana, remeh temeh, dan otodidak. Dan saya hanya bisa menghela nafas panjang.
What about that of married? apa sih menikah itu? Menikah memang tak harus selalu dibicarakan, tapi perlu dipikirkan secara matang dan terencana dengan baik. Menikah itu melahirkan generasi yang lebih baik dari kita. Menikah itu adalah sebuah produktivitas yang tak pernah berhenti. Menikah bukan sekedar cinta dan seks. Menikah juga tentang keagungan dan keajaiban. Tentang bagaimana proses manusia yang menakjubkan dalam hidup mereka. Itulah kenapa, Allah mengatakan Menikah adalah bagian separuh dari agama, menggenapkan dien. Menyempurnakan agama. Tentunya pahala orang menikah dan tidak menikah itu berbeda. Bagi yang single, agama mereka belum lengkap. Hihihi. Mengapa? Karena mereka tidak merasakan apa alasan Allah menciptakan manusia?? Mengapa Allah menciptakan Adam dan Hawa? Bukankah Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan? Bagaimana mungkin manusia merasa jijik dan benci dengan pembicaraan tentang ini? Parahnya lagi, kebencian ini dilakukan oleh orang yang sudah menikah terhadap orang yang belum menikah. Mereka menganggap, darah muda yang membuat mereka begitu menggebu-gebu. Namun, jika memang kenyataannya menggebu, lalu apakah itu salah? Bukankah Menikah juga sebuah solusi untuk menjaga diri?
Bahkan yang belum menikah, seorang aktivis yang cetar membahana, mengatakan “ Ah, itu hal kecil. Masih banyak yang harus dipikirkan”. What? OMG Hellowww…. Mengapa pemikirannya jadi terpisah begini? Wah, kurang syumul nih… Jadi begini, kita diciptakan bukan untuk menjadi sok militan kan? apalagi sok suci? Alangkah baiknya, jika kita berfikir luas…. Seandainya saja, orang-orang Palestina semua bujangan, apa yang akan terjadi? Mungkinkah Palestina akan menjadi tanah kosong dan Israel bebas menguasainya? akankah ada anak-anak pengafal Al-quran yang kita harapkan akan meneruskan perjuangan kita? akankah perzinaan menjadi semakin luas dan Islam hancur lebur sebelum waktunya? mungkin saja iya. Tapi Allah menakdirkan yang terbaik bukan? setiap harinya lahir bayi palestina dengan jumlah berlipat-lipat, sekali lahir kembar 4 atau 5. Bagaimana mungkin bayi itu lahir jika tidak dari pernikahan? sebuah cinta dari Adam dan Hawa?----- Jangankan tentang menikah, cinta saja Allah tak pernah melarang. Yang dilarang itu berzina, tidak menundukkan pandangan, ikhtilat, membuka aurat, dan cinta yang berlebihan.
Tidak perlu jauh-jauh tentang Palestina or Suriah. Hal-hal kecil yang ada di Indonesia saja. Seperti yang kita amati bersama, apakah setiap keluarga yang ada di Indonesia memiliki proyek produktif untuk memajukan Negara dengan asset SDM yaitu diri mereka sendiri dan anak-anak mereka yang siap mengharumkan Negara? NO! Maaf, ternyata saya seringkali menemukan sebuah keluarga yang mendidik anak ala kadarnya saja. Jangankan keluarga biasa, keluarga yang paham agama saja lupa menjalankan visi misi mereka saat awal menikah. Apalagi saat perjalanan bahtera yang sudah mulai jauh dan dalam.  Olalala, ribetnya amit-amit deh. Rasanya makin lama, masalah semakin banyak, belum biaya sekolah anak-anak, hutang kontrakan, bla-bla-bla… Itu artinya mengapa kita perlu memikirkan, merencanakan, dan terus menjadi pembelajar. Kenapa? karena setiap waktu pola hidup manusia kian berkembang dan berubah. Pola-pola lama belum tentu sesuai diterapkan dengan kondisi masa kini. Dan masalah yang sama tapi dalam kondisi yang berbeda pun belum tentu dapat diselesaikan dengan solusi yang sama. Begitu beratnya hidup ini bukan? Ho-ho-ho… jadi terharu dan sedih… :-P
Apa alasannya mereka serasa malu, ogah, dan alergi dengan pembahasan ini? Hmm, mungkin pernah patah hati? (Ups! Tralala) mungkin pernah dikecewakan? mungkin jenuh memunggu? mungkin kebanyakan dosa? mungkin pilih-pilih? mungkin merasa kualitas diri sudah aduhai bak putri salju yang setia menunggu pangeran? mungkin merasa tidak pantas membicarakannya? mungkin gatal-gatal jika menikah? (hihihi), mungkin kurang pengetahuan? mungkin belum kaya pengalaman? mungkin masih belajar juga? mungkin takut atau phobia dengan laki-laki? mungkin merasa malu dan rendah diri karena pandangan orang sekitar yang beranggapan bahwa membicarakan “nikah”  seperti orang kebelet pipis? (Waow… maaf ya..), mungkin juga…hmmm, mungkin…. jadi berfikir yang mungkin-mungkin deh…
Mengapa penting membicarakannya? mengusahakannya? Karena menikah yang pahalanya seluas langit dan bumi, melambangkan kesempurnaan hidup, dan kematangan proses kehidupan. Menikah yang manfaatnya dapat dirasakan oleh semua orang. Menikah yang begitu mulia dan hakiki. Menikah adalah fasekehidupan yang terpanjang dibandingkan fase yang lain. Hampir 80%-75% kehidupannya dihabiskan bersama pasangan dan keluarga. Mana mungkin ini semua tak pernah direncanakan dan bahkan tidak ingin dipikirkan, apalagi tak pernah dibicarakan?
Menikah memang bukan suatu perlombaan, menang-kalah. Tapi Menikah adalah murni keputusan diri, orang lain hanya membantu. Menikah bukan karena dorongan orang lain. Tidak menikah juga bukan karena larangan orang lain. Agama ini, menjunjung tinggi hak-hak kemanusiaan. Kalau tidak suka, ya Tolak (bagi perempuan), mau dijodohkan seperti apapun, ibadah tidak akan langgeng jika tidak dilakukan dengan cinta. Dalam melakukan ibadah itu, kita membutuhkan dua hal yang tak bisa terpisahkan yaitu yakin dan cinta. Yakin kepada Allah bahwa dia mampu menjaga dan membahagiakan kita. Cinta kepada Allah sehingga berkhidmat dengan segala anjurannya (ibadah-ibadah yang lain).
Menikah bukan masalah siapa dia, dimana dia, dan kapan datangnya. Tetapi, menikah adalah masalah siapa diri kita, dimana diri kita, posisi kita saat ini, kapan kita siap, dan bagaimana kualitas diri kita? sudah layakkah bertemu dengan jodoh, sedangkan kita merasa jijik tentang pernikahan? sudah pantaskah kita mendapatkan pahala yang bernilai separuh agama? sudah baikkah kita sehingga kita mampu membahagiakan orang lain? sudah cerdaskah kita mendidik anak-anak nanti? sudah lihaikah kita memenejemen keuangan nanti? sudah istikomahkah kita jika harus berkarya tiada henti? apa karya kita hari ini? apa persembahan kita hari ini untuk Tuhan? Wah, ternyata menikah itu begitu sulit ya? Hmm, sulit-sulit gampang, itulah kenapa kita harus memikirkannya? Menikah itu tak seindah yang kita bayangkan, juga tak semenderita yang kita bayangkan? menikah itu…yah… sesuatu yang aneh dan asing kemudian datang tiba-tiba. Bagaimana ceritanya jika kita tak persiapan sejak awal?
Saya tak bisa membayangkan, sebuah keluarga baru, pasangan muda, rumah sederhana, dan beranak satu, hidupnya hanya mengalir saja, seperti air… dan tak ada produktifitas keluarga yang tercipta disana? biasa ajaaaa…datar sajaaaaa….. haduh, mending kagak nikah aje… Nikah kok tidak berkualitas! Standart men…hahaha… lucu…ya… Tapi mohon maaf sebelumnya, tidak masalah hidup sederhana, apalagi seperti Umar bin Khattab, saat menjadi Khalifah, ia bahkan tidak memberikan uang gaji dari Negara pada keluarganya. Nah, ini baru keren. Beda dengan hidup sederhana, tanpa prestasi, punya anak satu, nonaktif berdakwah, lahir lagi anak kedua, anak ketiga, dan tak memberi perubahan yang berarti dalam masyarakat. Bingung saya jadinya mikirin kemungkinan-kemungkinan itu?
Nah, pada intinya, Menikah itu bukanlah hal yang menjijikkan kawan! Semuanya boleh membicarakannya. Asal tidak membicarakan yang engga sopan atau senonoh. Jadikan Keluarga kita nanti keluarga yang penuh cahaya. Abi, Umi, anak 1,anak 2, anak 3, dst… bisa berprestasi dan ditakuti dunia. Pasti deh, orang yang benci islam dan ingin menghancurkan islam akan heboh dan kalang kabut. Hidup itu hanya terletak pada sikap yang wajar, tidak berlebihan dalam memandang sesuatu… Bukalah pikiran, dan pikirkan apa yang tidak dipikirkan orang lain. Barangkali nanti, kita akan menjadi suami yang hebat, istri yang cerdas, anak-anak yang sholih-sholihah, hafidz-hafidzah, dan jenius. Ah pokoknya menikah itu seperti membangun perusahaan, Negara, dan hal-hal yang besar. Tergantung cara berfikir kita. Orang besar, pasti pemikirannya juga besar! Semangat! (Ngeriiii juga pemikiran saya ini, maaf yeee…belum tentu juga saya mampu melakukan sesempurna itu). Tak ada diri yang sempurna, maka juga tak ada orangtua yang sempurna, tak ada anak yang sempurna, apalagi pasangan yang sempurna. Tugas kita adalah merencanakan kesuksesan dengan berencana, bukan merencanakan kegagalan dengan tidak berencana samasekali.
Salam Cinta :-) semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar