Apakah benar Menikah adalah urusan yang
tidak terlalu penting daripada urusan yang lain??? hal ini selalu
berputar-putar di otak saya. Saya melakukan pengamatan pada orang-orang disekitar
saya hidup. Ternyata, sekitar 65% orang-orang ini beranggapan bahwa menikah
adalah hal yang tidak terlalu penting daripada tentang palestina, politik, dll.
Tapi, entah kenapa saya kurang setuju dengan pendapat tersebut. Dan Orang-orang
yang saya amati adalah 99 % orang yang kental dengan keagamaan.
Kenapa mereka sangat tabu membicarakan
tentang pernikahan di usia remaja-dewasa? bukankah itu sudah menjadi fitrahnya?
dimana letak kebencian mereka terhadap orang yang membicarakan tentang ilmu
pernikahan? Apakah pandangan mereka tentang menikah hanya pada pemuasan nafsu
atau penyaluran fitrah? dan benar, ternyata mereka benar memikirkan bahwa
menikah adalah urusan sederhana, remeh temeh, dan otodidak. Dan saya hanya bisa
menghela nafas panjang.
What about that of married? apa sih
menikah itu? Menikah memang tak harus selalu dibicarakan, tapi perlu dipikirkan
secara matang dan terencana dengan baik. Menikah itu melahirkan generasi yang
lebih baik dari kita. Menikah itu adalah sebuah produktivitas yang tak pernah
berhenti. Menikah bukan sekedar cinta dan seks. Menikah juga tentang keagungan
dan keajaiban. Tentang bagaimana proses manusia yang menakjubkan dalam hidup
mereka. Itulah kenapa, Allah mengatakan Menikah adalah bagian separuh dari
agama, menggenapkan dien. Menyempurnakan agama. Tentunya pahala orang menikah
dan tidak menikah itu berbeda. Bagi yang single, agama mereka belum lengkap.
Hihihi. Mengapa? Karena mereka tidak merasakan apa alasan Allah menciptakan
manusia?? Mengapa Allah menciptakan Adam dan Hawa? Bukankah Allah menciptakan manusia
berpasang-pasangan? Bagaimana mungkin manusia merasa jijik dan benci dengan
pembicaraan tentang ini? Parahnya lagi, kebencian ini dilakukan oleh orang yang
sudah menikah terhadap orang yang belum menikah. Mereka menganggap, darah muda
yang membuat mereka begitu menggebu-gebu. Namun, jika memang kenyataannya
menggebu, lalu apakah itu salah? Bukankah Menikah juga sebuah solusi untuk
menjaga diri?
Bahkan yang belum menikah, seorang
aktivis yang cetar membahana, mengatakan “ Ah, itu hal kecil. Masih banyak yang
harus dipikirkan”. What? OMG Hellowww…. Mengapa pemikirannya jadi terpisah
begini? Wah, kurang syumul nih… Jadi begini, kita diciptakan bukan untuk
menjadi sok militan kan? apalagi sok suci? Alangkah baiknya, jika kita berfikir
luas…. Seandainya saja, orang-orang Palestina semua bujangan, apa yang akan
terjadi? Mungkinkah Palestina akan menjadi tanah kosong dan Israel bebas
menguasainya? akankah ada anak-anak pengafal Al-quran yang kita harapkan akan
meneruskan perjuangan kita? akankah perzinaan menjadi semakin luas dan Islam
hancur lebur sebelum waktunya? mungkin saja iya. Tapi Allah menakdirkan yang
terbaik bukan? setiap harinya lahir bayi palestina dengan jumlah
berlipat-lipat, sekali lahir kembar 4 atau 5. Bagaimana mungkin bayi itu lahir
jika tidak dari pernikahan? sebuah cinta dari Adam dan Hawa?----- Jangankan
tentang menikah, cinta saja Allah tak pernah melarang. Yang dilarang itu
berzina, tidak menundukkan pandangan, ikhtilat, membuka aurat, dan cinta yang
berlebihan.
Tidak perlu jauh-jauh tentang Palestina
or Suriah. Hal-hal kecil yang ada di Indonesia saja. Seperti yang kita amati
bersama, apakah setiap keluarga yang ada di Indonesia memiliki proyek produktif
untuk memajukan Negara dengan asset SDM yaitu diri mereka sendiri dan anak-anak
mereka yang siap mengharumkan Negara? NO! Maaf, ternyata saya seringkali
menemukan sebuah keluarga yang mendidik anak ala kadarnya saja. Jangankan
keluarga biasa, keluarga yang paham agama saja lupa menjalankan visi misi mereka
saat awal menikah. Apalagi saat perjalanan bahtera yang sudah mulai jauh dan
dalam. Olalala, ribetnya amit-amit deh.
Rasanya makin lama, masalah semakin banyak, belum biaya sekolah anak-anak,
hutang kontrakan, bla-bla-bla… Itu artinya mengapa kita perlu memikirkan,
merencanakan, dan terus menjadi pembelajar. Kenapa? karena setiap waktu pola
hidup manusia kian berkembang dan berubah. Pola-pola lama belum tentu sesuai
diterapkan dengan kondisi masa kini. Dan masalah yang sama tapi dalam kondisi
yang berbeda pun belum tentu dapat diselesaikan dengan solusi yang sama. Begitu
beratnya hidup ini bukan? Ho-ho-ho… jadi terharu dan sedih… :-P
Apa alasannya mereka serasa malu, ogah,
dan alergi dengan pembahasan ini? Hmm, mungkin pernah patah hati? (Ups!
Tralala) mungkin pernah dikecewakan? mungkin jenuh memunggu? mungkin kebanyakan
dosa? mungkin pilih-pilih? mungkin merasa kualitas diri sudah aduhai bak putri
salju yang setia menunggu pangeran? mungkin merasa tidak pantas
membicarakannya? mungkin gatal-gatal jika menikah? (hihihi), mungkin kurang
pengetahuan? mungkin belum kaya pengalaman? mungkin masih belajar juga? mungkin
takut atau phobia dengan laki-laki? mungkin merasa malu dan rendah diri karena
pandangan orang sekitar yang beranggapan bahwa membicarakan “nikah” seperti orang kebelet pipis? (Waow… maaf
ya..), mungkin juga…hmmm, mungkin…. jadi berfikir yang mungkin-mungkin deh…
Mengapa penting membicarakannya?
mengusahakannya? Karena menikah yang pahalanya seluas langit dan bumi, melambangkan
kesempurnaan hidup, dan kematangan proses kehidupan. Menikah yang manfaatnya
dapat dirasakan oleh semua orang. Menikah yang begitu mulia dan hakiki. Menikah
adalah fasekehidupan yang terpanjang dibandingkan fase yang lain. Hampir
80%-75% kehidupannya dihabiskan bersama pasangan dan keluarga. Mana mungkin ini
semua tak pernah direncanakan dan bahkan tidak ingin dipikirkan, apalagi tak
pernah dibicarakan?
Menikah memang bukan suatu perlombaan,
menang-kalah. Tapi Menikah adalah murni keputusan diri, orang lain hanya
membantu. Menikah bukan karena dorongan orang lain. Tidak menikah juga bukan
karena larangan orang lain. Agama ini, menjunjung tinggi hak-hak kemanusiaan.
Kalau tidak suka, ya Tolak (bagi perempuan), mau dijodohkan seperti apapun,
ibadah tidak akan langgeng jika tidak dilakukan dengan cinta. Dalam melakukan
ibadah itu, kita membutuhkan dua hal yang tak bisa terpisahkan yaitu yakin dan
cinta. Yakin kepada Allah bahwa dia mampu menjaga dan membahagiakan kita. Cinta
kepada Allah sehingga berkhidmat dengan segala anjurannya (ibadah-ibadah yang
lain).
Menikah bukan masalah siapa dia, dimana
dia, dan kapan datangnya. Tetapi, menikah adalah masalah siapa diri kita,
dimana diri kita, posisi kita saat ini, kapan kita siap, dan bagaimana kualitas
diri kita? sudah layakkah bertemu dengan jodoh, sedangkan kita merasa jijik
tentang pernikahan? sudah pantaskah kita mendapatkan pahala yang bernilai
separuh agama? sudah baikkah kita sehingga kita mampu membahagiakan orang lain?
sudah cerdaskah kita mendidik anak-anak nanti? sudah lihaikah kita memenejemen
keuangan nanti? sudah istikomahkah kita jika harus berkarya tiada henti? apa
karya kita hari ini? apa persembahan kita hari ini untuk Tuhan? Wah, ternyata
menikah itu begitu sulit ya? Hmm, sulit-sulit gampang, itulah kenapa kita harus
memikirkannya? Menikah itu tak seindah yang kita bayangkan, juga tak
semenderita yang kita bayangkan? menikah itu…yah… sesuatu yang aneh dan asing
kemudian datang tiba-tiba. Bagaimana ceritanya jika kita tak persiapan sejak
awal?
Saya tak bisa membayangkan, sebuah
keluarga baru, pasangan muda, rumah sederhana, dan beranak satu, hidupnya hanya
mengalir saja, seperti air… dan tak ada produktifitas keluarga yang tercipta
disana? biasa ajaaaa…datar sajaaaaa….. haduh, mending kagak nikah aje… Nikah
kok tidak berkualitas! Standart men…hahaha… lucu…ya… Tapi mohon maaf sebelumnya,
tidak masalah hidup sederhana, apalagi seperti Umar bin Khattab, saat menjadi
Khalifah, ia bahkan tidak memberikan uang gaji dari Negara pada keluarganya.
Nah, ini baru keren. Beda dengan hidup sederhana, tanpa prestasi, punya anak
satu, nonaktif berdakwah, lahir lagi anak kedua, anak ketiga, dan tak memberi
perubahan yang berarti dalam masyarakat. Bingung saya jadinya mikirin
kemungkinan-kemungkinan itu?
Nah, pada intinya, Menikah itu bukanlah
hal yang menjijikkan kawan! Semuanya boleh membicarakannya. Asal tidak
membicarakan yang engga sopan atau senonoh. Jadikan Keluarga kita nanti
keluarga yang penuh cahaya. Abi, Umi, anak 1,anak 2, anak 3, dst… bisa berprestasi
dan ditakuti dunia. Pasti deh, orang yang benci islam dan ingin menghancurkan
islam akan heboh dan kalang kabut. Hidup itu hanya terletak pada sikap yang
wajar, tidak berlebihan dalam memandang sesuatu… Bukalah pikiran, dan pikirkan
apa yang tidak dipikirkan orang lain. Barangkali nanti, kita akan menjadi suami
yang hebat, istri yang cerdas, anak-anak yang sholih-sholihah, hafidz-hafidzah,
dan jenius. Ah pokoknya menikah itu seperti membangun perusahaan, Negara, dan
hal-hal yang besar. Tergantung cara berfikir kita. Orang besar, pasti
pemikirannya juga besar! Semangat! (Ngeriiii juga pemikiran saya ini, maaf
yeee…belum tentu juga saya mampu melakukan sesempurna itu). Tak ada diri yang
sempurna, maka juga tak ada orangtua yang sempurna, tak ada anak yang sempurna,
apalagi pasangan yang sempurna. Tugas kita adalah merencanakan kesuksesan
dengan berencana, bukan merencanakan kegagalan dengan tidak berencana
samasekali.
Salam Cinta :-) semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar