Senin, 12 Januari 2015

Jodoh di tepian Jalan



Selang 25 Tahun
Tahun 1989
            Hari itu, aku menangis, karena semua keluargaku tak menyetujui pernikahan kita. Kau datang dengan tergugu dan sakit. Kau datang dengan pilu, dan pulang dengan tangan hampa. Meski begitu, engkau tetap berharap padaku untuk menunggu sebentar saja. Kau bilang akan mencari uang untuk pernikahan kita. Kau memang terlahir dari keluarga miskin. Tapi aku sangat yakin akan kegigihanmu, dan aku yakin engkau bisa membahagiakanku. Tapi sayang, semua orang, bahkan seluruh dunia sekuat tenaga memisahkan kita, menghalangi niat suci kita, membuang mimpi-mimpi kita, menginjak-nginjak keyakinan diri kita.
            Awalnya, aku masih ingin memperjuangkannya. Tapi entah mengapa, waktu terus bergulir, aku menunggumu hampir setahun. Selama itu keluargaku telah menjadi musuhku. Mereka yang memusuhiku, bukan aku. Dalam tepian waktu, aku masih menunggu, dan akhirnya, ya, waktu juga memisahkan kita. Saat kau datang lagi, seluruh keluargaku mengirimku ke tanah Jawa. Dan aku menikah dengan pria lain tanpa sepengetahuanmu. Rasanya, aku menyerah dengan tembok raksasa yangmenghalangi langkah kita ini. Dan akhirnya aku memilih berdamai dengan keluargaku. Aku tak ingin menjadi anak durhaka. Ya, akhirnya kita harus menjalani hidup kita masing-masing. Aku menikah dengan orang lain dan kau menikah dengan orang lain di waktu hampir bersamaan. Hanya berhitung harian.
            Orangtuaku berfikir, bahwa harta adalah sumber kebahagiaan, padahal bagiku kamu sumber kebahagiaanku. Selama itu kita tak pernah lagi bertemu dan tak pernah berkomunikasi dengan apapun. Tahun itu, tak ada alat komunikasi yang sebebas dan terbuka seperti sekarang. Walaupun kehidupanku begitu menjenuhkan dan hampa, aku tetap menjalaninya. Mungkin, memang ini jalannya. Walaupun aku sebenarnya tak mengerti kenapa kita dipisahkan olehNya. Apakah kita memang benar-benar tidak berjodoh? Apakah aku memang jodoh dari suamiku sekarang? kalau aku berjodoh dengannya, kenapa hingga saat ini, hatiku masih seperti dulu.
            Dua puluh lima tahun kemudian, ada hal yang membuat diriku percaya pada Tuhan, bahwa jodoh tak akan kemana. Selama dua puluh lima tahun aku menjalani hidup dengan orang lain, dengan orang yang sama sekali tak aku suka. Sekalipun aku sudah berusaha dengan susah payah untuk mencintainya. Dari suamiku aku memiliki dua anak. Mereka yang membuatku bertahan di dunia ini. Mereka yang membuatku terus bertahan dalam keluarga ini. Hmmm, bagaimana kabarmu saat itu?
            Anak pertamaku sudah berusia 25 tahun, sedangkan anak keduaku 14 tahun. Aku tidak ingin menjadi contoh yang buruk bagi mereka. Aku tidak ingin menjadi ibu yang egosi dan meninggalkan mereka begitu saja. Pada suatu hari, aku dan suamiku berada dalam puncak konflik. Selama ini, suamiku yang dipercaya orangtuaku tak pernah menafkahiku dengan baik. Selama ini aku yang berjuang menghidupi keluarga ini. Awalnya aku tetap bersabar, mungkin ini ujian bagiku. Mungkin Tuhan ingin aku lebih sabar. Tetapi, kali ini entah kenapa aku merasa tak mampu seperti ini terus. Anak-anak sudah mulai besar dan harus mendapat pendidikan yang layak. Terkadang aku kasihan pada anakku yang pertama, Sari. Dia harus rela bersabar untuk menunda studynya ke Universitas. Aku lihat mimpinya sangat tinggin. Ia anak yang baik dan shalihah. Namun, aku tak mampu lagi member biaya padanya. Semakin lama, suamiku tak mampu menyelesaikan dengan masalah dengan baik. Pekerjaan menjadi bertumpuk padaku. Ia tak mampu memberiku kebahagiaan. Lagipula, selama ini, ia hanya berhobi menanam segala bibit tanaman yang tak pernah ada hasil.
            Tiba waktunya, ketika ia mengatakan, “Apa kau ingin bercerai denganku?”
            Aku mengangguk dengan ringan, semua ini sudah tidak bisa dipertahankan. Aku tak kuat lagi menanggung beban keluarga sendirian.
            “Baik, aku memang suami yang tidak baik. Aku akan ceraikan kamu. Kita, cerai, cerai, cerai!”, emosinya memuncak saat itu dan aku merasa sangat takut waktu itu.
            Saat proses perceraian kami. Semuanya berjalan dengan lancar. Aku bernafas sangat lega. Baru kali ini aku merasa bebas menjadi seorang wanita. Ayah dan Ibuku tak lagi seperti dulu. Mungkin mereka menyesal dengan apa yang pernah dilakukan pada kita. Pemaksaan bukanlah jalan yang terbaik dalam merencanakan masa depan.
            Satu bulan kemudian, aku kembali ke kampung halaman, di Surau. Aku membawa anakku yang kedua, dan anak pertamaku terpaksa bersama Ayahnya. Perpisahan dengan anak pertamaku lebih menyakitkan daripada perpisahan dengan Ayahnya. Di kampung halaman ini, aku berharap hidupku menjadi lebih baik. Aku tak sempat memikirkan untuk menikah lagi. Aku hanya ingin memikirkan bagaimana aku bekerja dan membiayai sekolah anak-anak. Tapi, lagi-lagi waktu mempertemukan kita Dan aku tak menyangka akan ini. Kita bertemu di surau kecil saat kita bersama-sama membangun lembaga pengajian disana. Kau selesai sholat rupanya, dan ternyata kau belum melupakan aku. Padahal wajahku mungkin tak lagi secantik dulu. Tapi ajaibnya, kau tetap tersenyum seperti dulu.
            “Saroh? kamu Saroh?”, kau tampak sangat senang. Aku mengangguk saja. Tetangga disekitar tampak memperhatikan kita berdua. Apalagi mereka mungkin tahu tentang masa lalu kita.
            “Kapan balik nah?”, tanyamu masih seperti dulu. Aku menunduk dalam-dalam. Takut terlihat oleh istrimu.
            “Baru dua hari yang lalu aku tiba disini”, jawabku sesingkat mungkin.
            “Kenapa tiba-tiba balik? kangen Mamak dan bapak?”, tanyamu lagi. Aku menggeleng.
            “Aku sudah tidak lagi tinggal di jawa”.
            “Lho kenapa? suamimu ikut kemari?”, tanyamu begitu deras mengalir.
            Aku menggeleng, “Tidak. Aku sendiri. Aku sudah bercerai dengannya”.
            “Oh… begitu. Maaf aku sudah bertanya tidak sopan. Hmm, aku juga baru saja bercerai dengan istriku. Ya, begitulah dia memintaku untuk menceraikannya”.
            “kenapa?”, gentian aku yang kaget.
            “Ah sudahlah, aku tak mengerti juga”, ujarmu enggan bercerita.” Oya, silahkan kalau mau pergi, saya juga akan pergi dari surau ini”, katamu.
            Aku tertegun padamu. Mengapa bisa kita sama-sama baru saja bercerai dengan pasangan kita masing-masing? Dulu, kita berpisah dan menikah dengan pasangan masing-masing? sekarang, kita bahkan bertemu lagi. Apa pesan yang ingin Allah sampaikan pada kita? Selama ini aku selalu berdoa yang terbaik.
            Tiba-tiba, satu minggu kemudian, kau datang lagi ke rumahku dan menanyakanku apa ingin menikah lagi. Waktu itu, aku merasa melayang tinggi. Perasaan yang sempat hilang kini kembali lagi. Dan akhirnya aku kembali menerimamu lagi. Untuk kedua kalinya kita menikah dan kali ini kita menikah karena kita sama-sama rela tanpa paksaan siapapun. Tanpa ada penghalang seperti dulu. Mereka semua seakan diam, mungkin baru menyadari bahwa kita ditakdirkan untuk bersama. Aku sangat bahagia saat ini, tak ada yang bisa melukiskan keindahan kebahagiaan ini.
            Kita dipisahkan saat usia kita 25 tahun dan bertemu kembali setelah 25 tahun kemudian. Di surau ini, aku dan kamu kembali mengagas mimpi. Mimpi kita ingin membangun pondok pengajian untuk kampung kita. Warga disini tetap seperti dulu, tidak bisa mengaji Al-quran. Allah menyatukan mimpi kita. Allah berkehendak, kita bersatu. Semua ini telah Allah rencanakan. Kita sebagai manusia hanya bisa tegar dengan segala takdirnya. Akhirnya, aku benar-benar terharu, merasakan betapa engkau memang lebih sanggup memberiku nafkah. Memberiku kebahagiaan kepada kami semua. Mungkin duulu, belum waktunya kita bersatu. Mungkin waktunya tidak tepat dan salah. Sehingga kita dipisahkan sementara atau Allah ingin bicara pada dunia bahwa sekalipun manusia bersusah payah menjodohkan manusia, jika Allah tidak berkehendak, suatu saat nanti Allah akan memisahkannya lagi.
            Padamu, terima kasih atas kesetiaanmu padaku. Jodoh kan kembali. Sekalipun berpisah akan didekatkan juga. Entah kapan itu. Inilah cinta, yang hadirnya dari Allah maha semesta. Ini cinta, selang 25 tahun kembali juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar