Selang
25 Tahun
Tahun 1989
Hari
itu, aku menangis, karena semua keluargaku tak menyetujui pernikahan kita. Kau
datang dengan tergugu dan sakit. Kau datang dengan pilu, dan pulang dengan
tangan hampa. Meski begitu, engkau tetap berharap padaku untuk menunggu
sebentar saja. Kau bilang akan mencari uang untuk pernikahan kita. Kau memang
terlahir dari keluarga miskin. Tapi aku sangat yakin akan kegigihanmu, dan aku
yakin engkau bisa membahagiakanku. Tapi sayang, semua orang, bahkan seluruh
dunia sekuat tenaga memisahkan kita, menghalangi niat suci kita, membuang
mimpi-mimpi kita, menginjak-nginjak keyakinan diri kita.
Awalnya,
aku masih ingin memperjuangkannya. Tapi entah mengapa, waktu terus bergulir,
aku menunggumu hampir setahun. Selama itu keluargaku telah menjadi musuhku.
Mereka yang memusuhiku, bukan aku. Dalam tepian waktu, aku masih menunggu, dan
akhirnya, ya, waktu juga memisahkan kita. Saat kau datang lagi, seluruh
keluargaku mengirimku ke tanah Jawa. Dan aku menikah dengan pria lain tanpa sepengetahuanmu.
Rasanya, aku menyerah dengan tembok raksasa yangmenghalangi langkah kita ini.
Dan akhirnya aku memilih berdamai dengan keluargaku. Aku tak ingin menjadi anak
durhaka. Ya, akhirnya kita harus menjalani hidup kita masing-masing. Aku
menikah dengan orang lain dan kau menikah dengan orang lain di waktu hampir
bersamaan. Hanya berhitung harian.
Orangtuaku
berfikir, bahwa harta adalah sumber kebahagiaan, padahal bagiku kamu sumber
kebahagiaanku. Selama itu kita tak pernah lagi bertemu dan tak pernah berkomunikasi
dengan apapun. Tahun itu, tak ada alat komunikasi yang sebebas dan terbuka
seperti sekarang. Walaupun kehidupanku begitu menjenuhkan dan hampa, aku tetap
menjalaninya. Mungkin, memang ini jalannya. Walaupun aku sebenarnya tak
mengerti kenapa kita dipisahkan olehNya. Apakah kita memang benar-benar tidak
berjodoh? Apakah aku memang jodoh dari suamiku sekarang? kalau aku berjodoh
dengannya, kenapa hingga saat ini, hatiku masih seperti dulu.
Dua
puluh lima tahun kemudian, ada hal yang membuat diriku percaya pada Tuhan,
bahwa jodoh tak akan kemana. Selama dua puluh lima tahun aku menjalani hidup
dengan orang lain, dengan orang yang sama sekali tak aku suka. Sekalipun aku
sudah berusaha dengan susah payah untuk mencintainya. Dari suamiku aku memiliki
dua anak. Mereka yang membuatku bertahan di dunia ini. Mereka yang membuatku
terus bertahan dalam keluarga ini. Hmmm, bagaimana kabarmu saat itu?
Anak
pertamaku sudah berusia 25 tahun, sedangkan anak keduaku 14 tahun. Aku tidak
ingin menjadi contoh yang buruk bagi mereka. Aku tidak ingin menjadi ibu yang
egosi dan meninggalkan mereka begitu saja. Pada suatu hari, aku dan suamiku
berada dalam puncak konflik. Selama ini, suamiku yang dipercaya orangtuaku tak
pernah menafkahiku dengan baik. Selama ini aku yang berjuang menghidupi
keluarga ini. Awalnya aku tetap bersabar, mungkin ini ujian bagiku. Mungkin
Tuhan ingin aku lebih sabar. Tetapi, kali ini entah kenapa aku merasa tak mampu
seperti ini terus. Anak-anak sudah mulai besar dan harus mendapat pendidikan
yang layak. Terkadang aku kasihan pada anakku yang pertama, Sari. Dia harus
rela bersabar untuk menunda studynya ke Universitas. Aku lihat mimpinya sangat
tinggin. Ia anak yang baik dan shalihah. Namun, aku tak mampu lagi member biaya
padanya. Semakin lama, suamiku tak mampu menyelesaikan dengan masalah dengan
baik. Pekerjaan menjadi bertumpuk padaku. Ia tak mampu memberiku kebahagiaan.
Lagipula, selama ini, ia hanya berhobi menanam segala bibit tanaman yang tak
pernah ada hasil.
Tiba
waktunya, ketika ia mengatakan, “Apa kau ingin bercerai denganku?”
Aku
mengangguk dengan ringan, semua ini sudah tidak bisa dipertahankan. Aku tak
kuat lagi menanggung beban keluarga sendirian.
“Baik,
aku memang suami yang tidak baik. Aku akan ceraikan kamu. Kita, cerai, cerai,
cerai!”, emosinya memuncak saat itu dan aku merasa sangat takut waktu itu.
Saat
proses perceraian kami. Semuanya berjalan dengan lancar. Aku bernafas sangat
lega. Baru kali ini aku merasa bebas menjadi seorang wanita. Ayah dan Ibuku tak
lagi seperti dulu. Mungkin mereka menyesal dengan apa yang pernah dilakukan
pada kita. Pemaksaan bukanlah jalan yang terbaik dalam merencanakan masa depan.
Satu
bulan kemudian, aku kembali ke kampung halaman, di Surau. Aku membawa anakku
yang kedua, dan anak pertamaku terpaksa bersama Ayahnya. Perpisahan dengan anak
pertamaku lebih menyakitkan daripada perpisahan dengan Ayahnya. Di kampung
halaman ini, aku berharap hidupku menjadi lebih baik. Aku tak sempat memikirkan
untuk menikah lagi. Aku hanya ingin memikirkan bagaimana aku bekerja dan
membiayai sekolah anak-anak. Tapi, lagi-lagi waktu mempertemukan kita Dan aku
tak menyangka akan ini. Kita bertemu di surau kecil saat kita bersama-sama
membangun lembaga pengajian disana. Kau selesai sholat rupanya, dan ternyata kau
belum melupakan aku. Padahal wajahku mungkin tak lagi secantik dulu. Tapi
ajaibnya, kau tetap tersenyum seperti dulu.
“Saroh?
kamu Saroh?”, kau tampak sangat senang. Aku mengangguk saja. Tetangga disekitar
tampak memperhatikan kita berdua. Apalagi mereka mungkin tahu tentang masa lalu
kita.
“Kapan
balik nah?”, tanyamu masih seperti dulu. Aku menunduk dalam-dalam. Takut
terlihat oleh istrimu.
“Baru
dua hari yang lalu aku tiba disini”, jawabku sesingkat mungkin.
“Kenapa
tiba-tiba balik? kangen Mamak dan bapak?”, tanyamu lagi. Aku menggeleng.
“Aku
sudah tidak lagi tinggal di jawa”.
“Lho
kenapa? suamimu ikut kemari?”, tanyamu begitu deras mengalir.
Aku
menggeleng, “Tidak. Aku sendiri. Aku sudah bercerai dengannya”.
“Oh…
begitu. Maaf aku sudah bertanya tidak sopan. Hmm, aku juga baru saja bercerai
dengan istriku. Ya, begitulah dia memintaku untuk menceraikannya”.
“kenapa?”,
gentian aku yang kaget.
“Ah
sudahlah, aku tak mengerti juga”, ujarmu enggan bercerita.” Oya, silahkan kalau
mau pergi, saya juga akan pergi dari surau ini”, katamu.
Aku
tertegun padamu. Mengapa bisa kita sama-sama baru saja bercerai dengan pasangan
kita masing-masing? Dulu, kita berpisah dan menikah dengan pasangan
masing-masing? sekarang, kita bahkan bertemu lagi. Apa pesan yang ingin Allah
sampaikan pada kita? Selama ini aku selalu berdoa yang terbaik.
Tiba-tiba,
satu minggu kemudian, kau datang lagi ke rumahku dan menanyakanku apa ingin
menikah lagi. Waktu itu, aku merasa melayang tinggi. Perasaan yang sempat
hilang kini kembali lagi. Dan akhirnya aku kembali menerimamu lagi. Untuk kedua
kalinya kita menikah dan kali ini kita menikah karena kita sama-sama rela tanpa
paksaan siapapun. Tanpa ada penghalang seperti dulu. Mereka semua seakan diam,
mungkin baru menyadari bahwa kita ditakdirkan untuk bersama. Aku sangat bahagia
saat ini, tak ada yang bisa melukiskan keindahan kebahagiaan ini.
Kita
dipisahkan saat usia kita 25 tahun dan bertemu kembali setelah 25 tahun
kemudian. Di surau ini, aku dan kamu kembali mengagas mimpi. Mimpi kita ingin
membangun pondok pengajian untuk kampung kita. Warga disini tetap seperti dulu,
tidak bisa mengaji Al-quran. Allah menyatukan mimpi kita. Allah berkehendak,
kita bersatu. Semua ini telah Allah rencanakan. Kita sebagai manusia hanya bisa
tegar dengan segala takdirnya. Akhirnya, aku benar-benar terharu, merasakan
betapa engkau memang lebih sanggup memberiku nafkah. Memberiku kebahagiaan
kepada kami semua. Mungkin duulu, belum waktunya kita bersatu. Mungkin waktunya
tidak tepat dan salah. Sehingga kita dipisahkan sementara atau Allah ingin
bicara pada dunia bahwa sekalipun manusia bersusah payah menjodohkan manusia,
jika Allah tidak berkehendak, suatu saat nanti Allah akan memisahkannya lagi.
Padamu,
terima kasih atas kesetiaanmu padaku. Jodoh kan kembali. Sekalipun berpisah
akan didekatkan juga. Entah kapan itu. Inilah cinta, yang hadirnya dari Allah
maha semesta. Ini cinta, selang 25 tahun kembali juga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar