Senin, 12 Januari 2015

Jodoh di persimpangan Jalan



Jodoh di persimpangan Jalan
            10 September 2014
Hari ini, aku mengenangmu dalam diam yang pekat. Aku menepikan lilin-lilin yang kunyalakan sendiri. Setiap tahun aku melakukannya sendiri di tanggal kelahiranmu. Setiap engkau lahir, akupun lahir. Kebetulan, hari lahir kita sama. Karena itu aku menyukaimu. Merasa kita diciptakan bersama. Merasa engkau ada, aku ada. Merasa engkau adalah pemilik diriku.
Aku menatapmu jauh, dan kau tak tahu itu. Aku mengimpikanmu, dan kau tak pernah tahu itu. Aku berjalan meski langkahku terseok oleh gadis disebelahmu. Namun, entah kenapa aku merasa bahagia setiap aku melihatmu tersenyum. Kau berdiri begitu gagah, menginspirasi segala yang tak kupunya. Kita pernah berbagi dalam waktu yang sangat singkat. Dan kau terinpirasi dariku karena kau tak punya hidup sepertiku. Bukankah kita saling melengkapi? Dan mungkin kau tak tahu itu. Atau tak pernah peduli, dan tak pernah menanyakannya padamu.
Aku mencintai Indonesia, dan kau juga mencintainya lebih. Aku menyukai saat aku berdiri tegar menghadapi segala rintangan yang telah kulewati, dan kau juga menyukai perjuangan. Kita tertawa, saling berkarya, saling berbagi. Aku suka setiap detiknya. Aku pemimpi, kau juga pemimpi. Aku pemimpin, kau juga pemimpin. Aku dan engkau sama. Tak ada beda. Bukankah kita memang diciptakan untuk sama?
Rasanya sedih saat waktu memisahkan kita. Aku dengan orang lain. Dan kau dengan orang lain. Terima kasih engkau telah membuatku terbata-bata menjalani hidup ini. Aku masih ingat saat kita bertemu pertama kali, aku begitu mengagumimu. Kau terlihat sangat sempurna. Pikiranmu maju. Kau menjalani hidup dengan ambisius, walaupun bosan. Ah, terlalu cepat waktu itu. Lebih baik, jika ku tahu ia akan mengambilmu dari waktu ke waktu, aku ingin berdoa pada Tuhan untuk menghentikan waktu itu. Setidaknya engkau benar-benar menjadi jodohku walaupun sebentar. Atau, suatu nanti Tuhan mempertemukan kita lagi dan ternyata engkau memang jodohku.
Perbedaan dan persamaan kita sangat unik. Dan aku merasa takjub melihatmu. Mendengarmu. menyaksikanmu. Mengenangmu. Aku selalu bangga apa yang kau lakukan. Prestasi yang kau toreh. Tiap kali itu, aku menangis. Betapa luarbiasanya engkau menjadi manusia. Karena itulah hidupmu selalu lurus tanpa liku. Sedangkan aku, berkebalikan darimu. Dan itu sangat menyenangkan. Goresan-goresan warna yang terlukis di kanvas kehidupan kita terlalu indah untuk diceritakan. Suatu saat nanti, aku selalu meyakini, kau hadir disampingku. Di dekatku. Kita bekerjasama membangun dunia.
Aku selalu bermimpi. Bermimpi jauh…sekali. Meskipun seluruh dunia mungkin mencaciku. Aku tak peduli. Meskipun mungkin banyak orang sepertiku. Aku yakin, Tuhan menciptakan aku sebaik mungkin. Bagi orang lain, pemimpin itu pemimpi yang mewujudkan mimpinya, namun bagiku, pemimpin itu orang terbaik yang berani mewujudkan mimpi-mimpi orang lain. Karena belum tentu, mimpi kita sesuai dengan mimpi orang banyak. Aku selalu tersenyum melihat langit biru. Hmmm, kita sama-sama menyukai langit. Aku tersenyum saat melihat Al-quran selalu kau baca, aku juga menyukai hal itu. Aku tertawa memandang hidup ini. Aku hadir menjadi orang asing dan lain. Tapi entah kenapa, aku sangat mengenalmu. Tanpa aku harus melihat semua tentangmu. Apa mungkin kita sudah pernah bertemu dalam kehidupan yang lain?
Semenjak itu, hari-hariku selalu bersemangat, bergairah tiada henti. Semua menjadi indah luarbiasa. Engkau ini sungguh ajaib. Mampu membuatku berharga dalam keadaan engkau tak melakukan apapun padaku. Sorot matamu membuatku selalu tersenyum, meski orang disampingmu selalu bergandengan mesra. Ah, aku tak peduli. Mungkin saja waktu menukarnya sebentar. Suatu saat nanti, mungkin saja, engkau dikembalikan kepadaku. Bukankah tulag rusuk mengenali pemiliknya?
Masalah perjodohan, semuanya mungkin baik-baik saja dalam satuan waktu tertentu. Namun, ini pasti sangat…. sangat… sangat sulit. Apakah jodoh itu memilih? aku selalu meyakininya bahwa Jodoh itu terpilih, hati kita terpilih untuk saling terjatuh. Apakah ketika aku terjatuh, Tuhan kulupakan? Apakah engkau melupakan Tuhan ketika engkau terjatuh padaku? Bukankah tidak? bukankah kita semakin dekat dengan Tuhan kita? Kita menjadi semakin takut dilaknat olehnya. Apakah aku pernah memilih untuk menjatuhkan diri padamu? Tidak… tiba-tiba saja, aku jatuh dan terbangun darinya.
Jatuh dan bangun adalah dua hal yang tidak bisa dipisah, saat kita terjatuh maka kita harus membangunnya. Tanpa membangunnya kita tidak akan ada selamanya, kebersamaan itu bisa saja sirna dan menghilang. Dan ketika kita membangun cinta, kemudian kita harus menjatuhkan diri padanya. Semua cerita itu harus dikembalikan kepada Tuhan, bukan dikembalikan kepada manusia. Semua manusia salah.
Ah, aku selalu yakin dengan pertemuan kita nanti. Mungkin hari ini, belum waktunya. Tapi jalan hidup ini yang masih panjang, akan mempertemukan kita dalam bisikan halus yang telah tertulis. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di hari depan. Tapi darimu aku belajar tentang ambisius dan keoptimisan.

1 komentar: