Jodoh
di persimpangan Jalan
10 September 2014
Hari
ini, aku mengenangmu dalam diam yang pekat. Aku menepikan lilin-lilin yang
kunyalakan sendiri. Setiap tahun aku melakukannya sendiri di tanggal
kelahiranmu. Setiap engkau lahir, akupun lahir. Kebetulan, hari lahir kita
sama. Karena itu aku menyukaimu. Merasa kita diciptakan bersama. Merasa engkau
ada, aku ada. Merasa engkau adalah pemilik diriku.
Aku
menatapmu jauh, dan kau tak tahu itu. Aku mengimpikanmu, dan kau tak pernah
tahu itu. Aku berjalan meski langkahku terseok oleh gadis disebelahmu. Namun,
entah kenapa aku merasa bahagia setiap aku melihatmu tersenyum. Kau berdiri
begitu gagah, menginspirasi segala yang tak kupunya. Kita pernah berbagi dalam
waktu yang sangat singkat. Dan kau terinpirasi dariku karena kau tak punya
hidup sepertiku. Bukankah kita saling melengkapi? Dan mungkin kau tak tahu itu.
Atau tak pernah peduli, dan tak pernah menanyakannya padamu.
Aku
mencintai Indonesia, dan kau juga mencintainya lebih. Aku menyukai saat aku berdiri
tegar menghadapi segala rintangan yang telah kulewati, dan kau juga menyukai
perjuangan. Kita tertawa, saling berkarya, saling berbagi. Aku suka setiap
detiknya. Aku pemimpi, kau juga pemimpi. Aku pemimpin, kau juga pemimpin. Aku
dan engkau sama. Tak ada beda. Bukankah kita memang diciptakan untuk sama?
Rasanya
sedih saat waktu memisahkan kita. Aku dengan orang lain. Dan kau dengan orang
lain. Terima kasih engkau telah membuatku terbata-bata menjalani hidup ini. Aku
masih ingat saat kita bertemu pertama kali, aku begitu mengagumimu. Kau
terlihat sangat sempurna. Pikiranmu maju. Kau menjalani hidup dengan ambisius,
walaupun bosan. Ah, terlalu cepat waktu itu. Lebih baik, jika ku tahu ia akan
mengambilmu dari waktu ke waktu, aku ingin berdoa pada Tuhan untuk menghentikan
waktu itu. Setidaknya engkau benar-benar menjadi jodohku walaupun sebentar.
Atau, suatu nanti Tuhan mempertemukan kita lagi dan ternyata engkau memang
jodohku.
Perbedaan
dan persamaan kita sangat unik. Dan aku merasa takjub melihatmu. Mendengarmu. menyaksikanmu.
Mengenangmu. Aku selalu bangga apa yang kau lakukan. Prestasi yang kau toreh.
Tiap kali itu, aku menangis. Betapa luarbiasanya engkau menjadi manusia. Karena
itulah hidupmu selalu lurus tanpa liku. Sedangkan aku, berkebalikan darimu. Dan
itu sangat menyenangkan. Goresan-goresan warna yang terlukis di kanvas
kehidupan kita terlalu indah untuk diceritakan. Suatu saat nanti, aku selalu
meyakini, kau hadir disampingku. Di dekatku. Kita bekerjasama membangun dunia.
Aku
selalu bermimpi. Bermimpi jauh…sekali. Meskipun seluruh dunia mungkin
mencaciku. Aku tak peduli. Meskipun mungkin banyak orang sepertiku. Aku yakin,
Tuhan menciptakan aku sebaik mungkin. Bagi orang lain, pemimpin itu pemimpi
yang mewujudkan mimpinya, namun bagiku, pemimpin itu orang terbaik yang berani
mewujudkan mimpi-mimpi orang lain. Karena belum tentu, mimpi kita sesuai dengan
mimpi orang banyak. Aku selalu tersenyum melihat langit biru. Hmmm, kita
sama-sama menyukai langit. Aku tersenyum saat melihat Al-quran selalu kau baca,
aku juga menyukai hal itu. Aku tertawa memandang hidup ini. Aku hadir menjadi
orang asing dan lain. Tapi entah kenapa, aku sangat mengenalmu. Tanpa aku harus
melihat semua tentangmu. Apa mungkin kita sudah pernah bertemu dalam kehidupan
yang lain?
Semenjak
itu, hari-hariku selalu bersemangat, bergairah tiada henti. Semua menjadi indah
luarbiasa. Engkau ini sungguh ajaib. Mampu membuatku berharga dalam keadaan
engkau tak melakukan apapun padaku. Sorot matamu membuatku selalu tersenyum,
meski orang disampingmu selalu bergandengan mesra. Ah, aku tak peduli. Mungkin
saja waktu menukarnya sebentar. Suatu saat nanti, mungkin saja, engkau
dikembalikan kepadaku. Bukankah tulag rusuk mengenali pemiliknya?
Masalah
perjodohan, semuanya mungkin baik-baik saja dalam satuan waktu tertentu. Namun,
ini pasti sangat…. sangat… sangat sulit. Apakah jodoh itu memilih? aku selalu
meyakininya bahwa Jodoh itu terpilih, hati kita terpilih untuk saling terjatuh.
Apakah ketika aku terjatuh, Tuhan kulupakan? Apakah engkau melupakan Tuhan
ketika engkau terjatuh padaku? Bukankah tidak? bukankah kita semakin dekat
dengan Tuhan kita? Kita menjadi semakin takut dilaknat olehnya. Apakah aku
pernah memilih untuk menjatuhkan diri padamu? Tidak… tiba-tiba saja, aku jatuh
dan terbangun darinya.
Jatuh
dan bangun adalah dua hal yang tidak bisa dipisah, saat kita terjatuh maka kita
harus membangunnya. Tanpa membangunnya kita tidak akan ada selamanya,
kebersamaan itu bisa saja sirna dan menghilang. Dan ketika kita membangun
cinta, kemudian kita harus menjatuhkan diri padanya. Semua cerita itu harus
dikembalikan kepada Tuhan, bukan dikembalikan kepada manusia. Semua manusia
salah.
Ah,
aku selalu yakin dengan pertemuan kita nanti. Mungkin hari ini, belum waktunya.
Tapi jalan hidup ini yang masih panjang, akan mempertemukan kita dalam bisikan
halus yang telah tertulis. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di hari
depan. Tapi darimu aku belajar tentang ambisius dan keoptimisan.
Oke banget
BalasHapus