Senin, 12 Januari 2015

Cinta yang tak berujung

Pernah suatu hari kehidupan ini berada dalam kebalikan. Aku seperti penulis yang melupakan kalimat yang kuucapkan sendiri. Aku seperti tak memiliki harga dimata orang lain. Mungkinkah, kehadiranku adalah sebuah kesalahan. Mungkinkah juga, keberadaanku tak diingankan adanya.

Tapi... seutas cinta itu masih selalu kusimpan. Tentang mimpiku membangun peradaban. Tentang mimpiku mencintai kebaikan. Semua itu mengalir begitu indah, meskipun hatiku menderu-deru karena kepayahan. Ya, payah melihat engkau dan engkau terus mencibirku. Entah, apa salahku.

Meski diriku berlari, aku telah kalah. Dan mencoba memastikan diri untuk menghilang dari sini. Menghilang seperti asap yang berdebu-debu. Menghilang seperti polusi yang tak pantas ada. Menghilang seperti burung-burung yang kelelahan saat matahari mulai tenggelam.

Mungkin, aku memang bukanlah hal yang terbaik berada dalam bingkai cinta engkau dan engkau... namun, ceritaku bersama di tanah ini, akan menjadi kenangan dalam memori kehidupan. Aku tak kan pernah melupakan, segores luka yang engkau torehkan. Tak kan lupa kata-katamu yang bak pedang pernah menusukku. Tapi, anehnya, aku tak mati juga. Aku belum mati dan masih berdiri tegak. Dan kalian masih setia menatapku dalam simbah luka berdarah-darah. Masih menontonku dalam sujud-sujud sunyi. Kalian itu..... ah, rasanya aku ingin terus memaki. Belum berhenti kebencian yang hampir tiap hari ingin kulupakan. Berhentilah... kepalaku nyaris terpenggal, tapi aku masih bernafas. Kalian seperti membunuhku pelan-pelan. Semoga, kebencianku ini sembuh pada kalian.

Cintaku pada kebaikan, tiba-tiba mulai terkoyak pelan-pelan. Aku tersedu dan mati. Aku berharap aku bisa mati saat ini juga. Tak ada yang mampu memahami luka yang jelas-jelas menganga. Tak ada yang membasuh borok yang membusuk dalam tubuhku. Tak ada yang membalutnya dengan cinta. Tak ada sahabat, tak ada kekasih, tak ada mulut yang mampu menenangkan aku. Bisakah, aku mati sekarang juga?

Kematianku, mungkin pesta bahagia bagi kalian.
Semoga aku salah melihat, semoga mataku salah menemukan kalian yang menusukku. Satu-persatu aku meyakinkan orang lain, aku tak masalah, aku tak salah... tetapi, justru mereka ikut menekan tusukan pedang yangbelum bisa terlepas.

Aku berharap, aku mati. Mati dalam luka dan keberadaanku tak ada yang menginginkan.
Aku berharap, aku bisa mati. Tapi, kenapa untuk mati begitu sulit, padahal, uratku hampir terputus. Aku juga tak kunjung mati. Aku juga tak mati... Apa sebenarnya aku telah mati???

Sesungguhnya, bersama kalian adalah kerinduanku. Tapi, kalian terus mencampakkanku. Dan tak ada kata maaf yang keluar dari mulut kalian. Cinta ini tetap kujahit dalam relung dan... serpihan yang kulem dengan kastol begitu rekat. Bisakah aku berhenti mencintai persahabatan ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar