- Jarak yang membentang -
Jarak yang membentang di segala
penjuru menghiasi hari-hari. Mungkinkah, Jarak seperti ini adalah takdir kita.
Takdir yang terwujud dari luka yang menjelma menjadi sebuah huruf yang tak lagi
mampu untuk diucapkan. Kelu dan malu hingga di persendian. Di uluran urat-urat
kecil, huruf itu terus berdesir dan menggigilkan anganku.
Jarak yang luasnya seperti langit
dan bumi itu, mungkinkah adalah surga? Seolah-olah aku berdiri di ruang hampa
dan sendiri. Penantian yang memilin-milin lamunan yang tak lagi berarah. Lalu
kusadari, aku telah lama menghitung ilmu matematika tanpa jawaban.
Ya, seperti ilmu Aritmatika yang
penuh misteri. Bilangan 'nol'. Bilangan antara ada dan tiada. Utopia yang
selalu menari-nari di setiap perjalanan hidup. Ia terus menjarahku hingga aku
berada dalam kematian sejenak.
Aku menginginkan tidur menjadi
penghibur dikala tak lagi ada aroma bunga yang menari. Tidur adalah saudara
kematian.Tempatku menemukan dunia lain yang lebih bebas dan lepas. Tempatku
menjadi orang asing dan bertemu dengan orang asing. Tempatku menemukan cerita
yang berbeda dibandingkan kenyataan setiap aku terjaga.
Ketika aku terbangun, kudapati hanya
mimpi yang hanya mampu mempertemukan hatiku dengan Tuhan. Aku tak kekal lalu
terbawa arus dunia. Hidup manusia hanya ada antara hidup dan mati.
Engkau adalah rahasiaku dengan Tuhan
-Terinspirasi dari buku kisah
Khadijah binti kuwailid dengan kekasihnya, Muhammad SAW (Tapi ini kutulis
dengan bahasaku sendiri)
waow....
BalasHapus