Senin, 12 Januari 2015

Jodoh yang terlupakan



- Jarak yang membentang -

Jarak yang membentang di segala penjuru menghiasi hari-hari. Mungkinkah, Jarak seperti ini adalah takdir kita. Takdir yang terwujud dari luka yang menjelma menjadi sebuah huruf yang tak lagi mampu untuk diucapkan. Kelu dan malu hingga di persendian. Di uluran urat-urat kecil, huruf itu terus berdesir dan menggigilkan anganku.

Jarak yang luasnya seperti langit dan bumi itu, mungkinkah adalah surga? Seolah-olah aku berdiri di ruang hampa dan sendiri. Penantian yang memilin-milin lamunan yang tak lagi berarah. Lalu kusadari, aku telah lama menghitung ilmu matematika tanpa jawaban.

Ya, seperti ilmu Aritmatika yang penuh misteri. Bilangan 'nol'. Bilangan antara ada dan tiada. Utopia yang selalu menari-nari di setiap perjalanan hidup. Ia terus menjarahku hingga aku berada dalam kematian sejenak.

Aku menginginkan tidur menjadi penghibur dikala tak lagi ada aroma bunga yang menari. Tidur adalah saudara kematian.Tempatku menemukan dunia lain yang lebih bebas dan lepas. Tempatku menjadi orang asing dan bertemu dengan orang asing. Tempatku menemukan cerita yang berbeda dibandingkan kenyataan setiap aku terjaga. 

Ketika aku terbangun, kudapati hanya mimpi yang hanya mampu mempertemukan hatiku dengan Tuhan. Aku tak kekal lalu terbawa arus dunia. Hidup manusia hanya ada antara hidup dan mati.

Engkau adalah rahasiaku dengan Tuhan

-Terinspirasi dari buku kisah Khadijah binti kuwailid dengan kekasihnya, Muhammad SAW (Tapi ini kutulis dengan bahasaku sendiri)

1 komentar: